Riset Kesadaran Privasi Terhadap AI pada Gen Z dan Milenial

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukan lagi hal yang asing dan membingungkan bagi masyarakat di Indonesia. Kini, masyarakat sudah semakin lihai memanfaatkan AI untuk memudahkan pekerjaan mereka.
Menariknya, mayoritas publik juga mulai memandang AI sebagai “asisten”, bukan lagi sebagai ancaman yang akan menggantikan peran manusia. Tak kalah penting, masyarakat juga percaya bahwa keamanan dan regulasi privasi AI sudah cukup memadai.
Hal tersebut diungkapkan kumparan dalam laporan riset bertajuk Indonesia AI Report 2025. Simak informasi riset kesadaran privasi terhadap AI selengkapnya di bawah ini.
Riset Kesadaran Privasi Terhadap AI
Salah satu temuan kumparan dalam riset Indonesia AI Report 2025 adalah kesadaran publik terhadap privasinya saat menggunakan AI terbilang cukup tinggi. Sebanyak 65% responden melindungi datanya dengan cukup protektif, 39% sangat protektif, dan 28% masih kurang protektif.
Dari riset tersebut juga terungkap Gen Z menjadi kelompok yang lebih protektif terhadap data pribadinya dibandingkan Milenial. Hal ini sesuai dengan karakteristik Gen Z yang memang selektif dalam menyebar dan memilah informasi, karena tumbuh di era digital.
Berikut ini rincian sikap Gen Z dan Milenial terhadap privasi datanya saat menggunakan layanan berbasis AI:
20% Gen Z dan Milenial bersikap sangat protektif (membaca kebijakan, minimisasi data, akun terpisah/anonim bila perlu).
30% Gen Z dan 24% Milenial bersikap protektif (membatasi izin, menonaktifkan fitur pelacakan jika perlu)
30% Gen Z dan 35% Milenial bersikap cukup protektif (menghindari data sensitif, selektif berbagi)
14% Gen Z dan Milenial bersikap kurang protektif (jarang meninjau izin/kebijakan)
7% Gen Z dan Milenial bersikap sangat tidak protektif (berbagi data tanpa banyak pertimbangan)
Menariknya, meskipun memiliki kesadaran melindungi data pribadi yang cukup tinggi, publik juga percaya bahwa keamanan dan regulasi AI terhadap privasi pengguna sudah memadai.
Sebanyak 65% responden setuju bahwa sudah ada regulasi yang memadai untuk mengatur penggunaan AI. Lalu, ada 75% yang merasa tata kelola untuk melindungi dari potensi masalah sudah cukup.
Selain itu, 70% percaya bahwa penggunaan AI di aplikasi digital sudah cukup aman dalam memproteksi privasi pengguna. Optimisme ini merupakan hal positif, karena membantu menciptakan lingkungan sosial yang dapat mendukung percepatan transformasi AI.
Namun, tingkat kepercayaan yang terlalu tinggi juga menyimpan risiko di baliknya. Seringnya, kepercayaan publik tidak diimbangi dengan literasi, pemahaman, dan kesiapan regulasi yang memadai.
Dikhawatirkan hal itu akan menimbulkan dampak negatif di masa depan, seperti penyalahgunaan teknologi, hilangnya lapangan kerja, dan pergeseran nilai budaya. Kondisi ini biasanya baru disadari setelah dampaknya meluas.
Baca hasil riset lengkap Indonesia AI Report 2025 di sini!
Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, Klik “View on Slideshare”
ALTERNATIVE DOWNLOAD LINK: kumparan Indonesia AI Report 2025
Baca Juga: AI yang Paling Banyak Digunakan di Indonesia Menurut Indonesia AI Report 2025
(DEL)
