Konten dari Pengguna

Riset Perilaku Penggunaan AI dalam Aktivitas Digital Masyarakat

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Pengguna Artificial Intelligence (AI). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pengguna Artificial Intelligence (AI). Foto: Abid Raihan/kumparan

Artificial Intelligence (AI) telah mengalami pertumbuhan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kini, penggunaannya tidak terbatas di dunia profesional saja, tetapi juga semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah meluasnya pemanfaatan AI, perilaku kurang bijak juga sering kali terjadi. Banyak pengguna bahkan cenderung mengandalkan AI tanpa memahami batasan, etika, atau dampak dari setiap interaksi yang mereka lakukan.

Untuk memahami fenomena ini lebih jauh, Indonesia AI Report 2025 hadir sebagai hasil kolaborasi antara kumparan dan Populix. Laporan ini mengungkap bagaimana Milenial dan Gen Z berinteraksi dengan AI dalam rutinitas harian mereka.

Berikut rangkuman hasil riset mengenai perilaku masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan AI.

Perilaku Publik dalam Menggunakan AI di Indonesia

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Riset menunjukkan bahwa Milenial dan Gen Z memiliki ketertarikan tinggi pada teknologi ini, meskipun etika penggunaannya sering kali diabaikan.

Secara umum, lebih dari separuh responden (53%) mengaku pernah menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan tanpa menyebutkan bahwa hasilnya dibuat dengan bantuan AI.

Penggunaannya lebih banyak dilakukan oleh Gen Z (58%) dibandingkan Milenial (49%). Ini menandakan generasi muda sudah makin terbiasa memakai AI dalam keseharian, meski belum tentu sadar sepenuhnya akan dampak atau risikonya.

Pada ranah kesehatan, 34% responden menggunakan AI untuk konsultasi atau diagnosis kesehatan fisik tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Sementara 32% lainnya menggunakan AI untuk penilaian kesehatan mental tanpa melibatkan psikolog atau psikiater. Kebiasaan ini lebih banyak dilakukan oleh Gen Z, yang cenderung mencari solusi cepat lewat teknologi.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Dari hasil survei terlihat pula bahwa sebagian publik masih menggunakan AI tanpa memerhatikan aspek etika dan tanggung jawab digital.

Sebanyak 27% Milenial dan 25% Gen Z mengaku membagikan konten yang dibuat AI tanpa menyebutkan bahwa konten tersebut hasil buatan AI. Selain itu, 25% Milenial dan 26% Gen Z pernah mengambil keputusan penting hanya berdasarkan rekomendasi AI tanpa berkonsultasi dengan ahli.

Bahkan, ada juga yang menggunakan AI untuk hal yang lebih berisiko, seperti meniru identitas orang lain melalui teks, suara, atau gambar (deepfake), di mana 20% Milenial dan 16% Gen Z mengaku pernah melakukannya.

Perilaku lain yang cukup sering dilakukan adalah membagikan hasil dari AI tanpa memeriksa kebenarannya (18% Milenial dan 16% Gen Z), serta membuat atau menyebarkan konten AI yang berpotensi sensitif atau menyinggung (14% Milenial dan 12% Gen Z).

Tak kalah penting, masih ada 14% Milenial dan 10% Gen Z yang memasukkan data pribadi orang lain atau instansi ke AI tanpa izin. Temuan ini menunjukkan bahwa meski AI semakin akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran publik terhadap etika dan privasi digital masih perlu ditingkatkan.

Baca hasil riset lengkap Indonesia AI Report 2025 di sini!

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, Klik “View on Slideshare”

iframe embed

ALTERNATIVE DOWNLOAD LINK: kumparan Indonesia AI Report 2025

Baca Juga: Tingkat Penggunaan AI dalam Pekerjaan versi Survei Indonesia AI Report 2025

(ANB)