Konten dari Pengguna

Sejarah Hari Kartini, Momen Perjuangan Emansipasi Wanita Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia, khususnya kaum wanita memperingati Hari Kartini. Sejarah Hari Kartini tidak bisa dipisahkan dari keinginan dan perjuangan RA Kartini untuk memajukan wanita pribumi.

Mengutip buku Sebuah Catatan Sosial tentang Ilmu, Islam, dan Indonesia tulisan Danu Aris Setiyanto, kondisi perempuan pribumi yang berstatus rendah menjadi alasan utama Kartini memperjuangkan hak persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan hukum bagi wanita saat itu.

Hingga sekarang, R.A. Kartini dikenal luas sebagai pahlawan yang memelopori kebangkitan wanita pribumi. Jasanya dikenang melalui peringatan Hari Kartini yang dirayakan setiap 21 April.

Bagaimana sejarah awal peringatan tersebut? Untuk mengetahuinya, simaklah artikel berikut ini.

Sejarah Hari Kartini

R.A. Kartini Foto: Wikimedia Commons

Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara.

Sementara ibunya, Mas Ayu Ngasirah, merupakan anak dari kiai tersohor di Jepara. Ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan putri keturunan langsung bangsawan tinggi Madura.

Mengutip buku Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah oleh Mulyono Atmosiswartoputra, status ayahnya yang berkedudukan tinggi membuat Kartini berkesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah formal.

Pada 1886 ketika usianya menginjak tujuh tahun, Kartini mulai bersekolah di Europese Legere School (ELS) di Jepara, sekolah elit yang hanya menampung anak-anak Belanda, keturunan campuran Belanda-Indonesia, dan anak-anak pribumi dari keluarga bangsawan.

Meski begitu, Kartini sebenarnya masih kalah jauh dari saudara laki-lakinya yang berpendidikan tinggi. Pasalnya, ia hanya diizinkan mengenyam pendidikan sampai ELS yang setingkat sekolah dasar.

Bukan tanpa alasan, pada zaman itu perempuan pribumi memang masih terbelenggu oleh adat yang menempatkan status sosial mereka di bawah laki-laki. Perempuan hanya dididik untuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Bahkan, mereka juga tidak dibolehkan menentukan jodohnya sendiri.

Baca juga: 5 Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Meneruskan Semangat Perjuangan Kartini

Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Hal itu pun terjadi pada Kartini yang harus menjalani masa pingitan sejak usianya masih sangat belia, yaitu 12 tahun. Ia dipingit sampai ada orang yang melamarnya untuk dijadikan istri.

Oleh sang ayah, Kartini hanya boleh tinggal di rumah dan tidak diizinkan melanjutkan sekolah. Padahal, selepas lulus dari ELS Kartini ingin meneruskan pendidikannya ke Hogere Burger School (HBS) yang setingkat dengan sekolah menengah pertama.

Memiliki ruang gerak terbatas karena hanya boleh berdiam diri di rumah tidak lantas memupuskan cita-cita Kartini untuk berpendidikan tinggi. Selama dipingit, ia justru menyibukkan diri dengan membaca apa saja yang bermanfaat baginya, mulai dari buku, koran, hingga majalah.

Di samping itu, Kartini juga aktif berkirim surat dengan teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda. Mengutip laman Kemendikbud, surat-surat tersebut menjadi media bagi Kartini untuk menumpahkan segala keluh kesahnya tentang budaya Jawa yang dianggap menghambat kemajuan perempuan.

Salah satu teman yang banyak mendukungnya adalah Rosa Abendanon. Darinya, Kartini mulai sering membaca buku dan koran Eropa yang kemudian menyadarkannya bahwa kaum perempuan dan bangsanya masih jauh terbelakang. Sejak saat itu, ia bertekad memajukan wanita Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan.

Cita-citanya terwujud setelah ia berhasil mendirikan sekolah gadis yang mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar. Mata pelajaran yang diajarkan adalah membaca, menulis menjahit, menyulam, dan sebagainya.

Baca juga: Lirik Lagu Ibu Kita Kartini untuk Memperingati Hari Kartini 21 April

Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Pada 8 November 1903, Kartini memutuskan menikah dengan Bupati Rembang R.M Adipati Joyodiningrat. Beruntung sang suami mendukung cita-cita Kartini, sehingga ia diberi keleluasaan untuk mendirikan sekolah wanita di daerah Kabupaten Rembang.

Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904. Namun, beberapa hari kemudian ia mengembuskan napas terakhirnya di usia yang cukup muda, yaitu 25 tahun.

Meski demikian, api semangat yang dikobarkan Kartini tak lantas padam. Surat-surat Kartini dibukukan oleh Mr. J.H Abendanon dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itulah yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Untuk mengenang jasa-jasa RA Kartini, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Melalui Keppres RI No. 108 Tahun 1964, Bung Karno juga menetapkan hari lahir Kartini, yaitu 21 April sebagai Hari Kartini.

(ADS)

Baca juga: Inspirasi Quotes Kartini dan Ucapan untuk Hari Kartini Anti Mainstream

Frequently Asked Question Section

Kapan Hari Kartini diperingati?

chevron-down

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia, khususnya kaum wanita memperingati Hari Kartini secara serentak.

Apa sejarah Hari Kartini?

chevron-down

Sejarah Hari Kartini tidak bisa dipisahkan dari keinginan dan perjuangan RA Kartini untuk memajukan wanita pribumi.

Mengapa Kartini dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional?

chevron-down

Hingga sekarang, R.A. Kartini dikenal luas sebagai pahlawan yang memelopori kebangkitan wanita pribumi dengan memperjuangkan hak persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan hukum bagi wanita saat itu.