Sejarah Kue Keranjang dan Filosofinya dalam Perayaan Imlek

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kue keranjang merupakan sajian khas yang selalu hadir dalam perayaan Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, kue ini dipercaya sebagai simbol peningkatan rezeki, keberuntungan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.
Makna tersebut menjadikan kue keranjang bukan sekadar sajian, melainkan menjadi bagian penting dari tradisi Imlek yang dinantikan setiap tahunnya. Kehadirannya mencerminkan doa dan harapan baik bagi masyarakat yang merayakan Imlek.
Namun, tahukah Anda soal sejarah kue keranjang yang selalu muncul dalam perayaan Imlek? Simak penjelasan latar belakangnya di artikel ini!
Sejarah Kue Keranjang
Dalam bahasa Tionghoa, kue keranjang dikenal dengan sebutan nian gao yang berarti kue tahun. Secara tradisional, kue ini digunakan sebagai persembahan untuk leluhur atau Dewa Dapur yang merupakan bentuk penghormatan sekaligus doa menjelang Tahun Baru Imlek.
Disadur dari skripsi Perancangan Buku Ilustrasi Tentang Kue Keranjang sebagai Tradisi Imlek oleh Melinda Fandrayani, asal-usul kue manis ini tidak diketahui secara pasti. Namun, kue keranjang diyakini telah ada sejak sekitar 3.000 tahun lalu, tepatnya pada masa periode Musim Semi dan Gugur, yang kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru Imlek.
Salah satu legenda menyebutkan bahwa kue keranjang dibuat oleh Jenderal Wu Zixu, tokoh yang berjasa membantu Raja Helu membangun kota. Sebelum wafat, Wu Zixu dikisahkan memerintahkan bawahannya untuk menggali tanah sedalam 100 meter yang berisi persediaan makanan.
Konon, Wu Zixu membangun fondasi dinding kota menggunakan batu bata dari tepung beras. Persediaan tersebut kemudian menyelamatkan rakyat dari kelaparan. Sejak saat itu, kue keranjang dijadikan simbol penghormatan untuk mengenang jasa Wu Zixu.
Di Indonesia, kue keranjang merupakan hasil akulturasi budaya masyarakat Tionghoa dari wilayah Guangdong dan Fujian. Bahan dasarnya tetap sama, yaitu tepung beras ketan, gula merah, serta air atau santan. Kemudian, cara penyajiannya umumnya dikukus menggunakan bungkus daun pisang atau anyaman bambu.
Baca Juga: Cara Membuat Kue Keranjang, Menu Spesial Perayaan Imlek
Filosofi Kue Keranjang
Kue keranjang adalah simbol harapan akan datangnya keberuntungan dan kemakmuran. Kepercayaan ini berasal dari pelafalan nian gao yang terdengar serupa dengan frasa "tahun yang lebih tinggi", sehingga melambangkan harapan akan bertambahnya rezeki dan kehidupan yang lebih baik.
Dalam tradisi Imlek, kue keranjang biasanya dikonsumsi sebelum mengonsumsi nasi yang menjadi simbol doa agar keberuntungan menyertai sepanjang tahun. Lalu, kue ini juga memiliki nilai sosial karena secara turun-temurun dinikmati bersama keluarga atau dibagikan kepada kerabat dan tetangga.
Dalam beberapa tradisi, kue keranjang disusun secara bertingkat dari ukuran terbesar hingga terkecil. Susunan ini melambangkan harapan untuk kemakmuran yang terus meningkat sepanjang tahun yang baru.
Dari sisi legenda dan kepercayaan, kue keranjang juga disajikan sebagai persembahan kepada Dewa Dapur. Makanan ini dipercaya dapat "memaniskan" laporan Dewa Dapur tentang kehidupan rumah tangga kepada para dewa. Tradisi tersebut telah dikenal sejak Dinasti Tang dan masih dilestarikan hingga kini.
(NSF)
