Konten dari Pengguna

Siapa Penggagas Program Cultuurstelsel? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cultuurstelsel adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Cultuurstelsel adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Foto: Pexels.com

Siapa penggagas program Cultuurstelsel adalah salah satu materi dipelajari dalam mata pelajaran sejarah, Bagi yang belum tahu, Cultuurstelsel, atau yang dikenal sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah salah satu kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda saat menguasai Nusantara.

Program ini diwajibkan kepada petani untuk menanam tanaman ekspor seperti kopi, tebu, dan tembakau di sebagian lahan mereka. Hasil panen dari tanaman ini kemudian diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai bentuk pajak

Tujuan dari program ini untuk mendukung perekonomian Belanda yang mengalami krisis akibat perang dan konflik besar lainnya. Pertanyaannya, siapakah yang menggagas program Cultuurstelsel?

Sosok Penggagas Program Cultuurstelsel

Penggagas program Cultuurstelsel adalah Johannes van den Bosch. Foto: Pexels.com

Mengutip buku Sejarah Indonesia: Untuk SMK Kelas X Semester Ganjil oleh Fatayat Ridlo Mintarsih, Cultuurstelsel digagas oleh Johannes van den Bosch, yakni tokoh penting dalam sejarah kolonial Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal ke-43 Hindia Belanda. Ia lahir pada 1 Februari 1780 di Herwijnen, Gelderland, Belanda.

Karier militernya dimulai saat ia tiba di Pulau Jawa pada tahun 1797 sebagai seorang letnan. Berkat kemampuannya, ia dengan cepat naik pangkat menjadi kolonel.

Perbedaan pendapat dengan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuatnya dipulangkan ke Belanda pada tahun 1810. Lalu, pada tahun 1830, van den Bosch kembali ke Jawa dan diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Salah satu kebijakan paling kontroversial yang ia perkenalkan adalah Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi krisis keuangan Belanda yang disebabkan oleh berbagai perang di Nusantara dan konflik lokal lainnya di Eropa.

Melalui sistem ini, petani di Nusantara diwajibkan menanam tanaman ekspor semacam tebu, kopi, dan tembakau di sebagian jatah lahan mereka. Lalu, hasil panennya digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Baca Juga: 4 Dampak Politik Etis bagi Indonesia saat Masa Penjajahan Belanda

Sejarah Sistem Cultuurstelsel

Cultuurstelsel, atau sistem tanam paksa mulai dilaksanakan pada tahun 1830. Foto: Unsplash.com

Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMP Kelas VIII karya Anita dan Ridwan dijelaskan bahwa sistem Cultuurstelsel atau Tanam Paksa mulai diterapkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1830 untuk mengatasi krisis ekonomi akibat perang di berbagai tempat, salah satunya Perang Diponegoro (1825-1830).

Karena itu, hasil panen harus diserahkan kepada pemerintah kolonial sebagai bagian dari pajak. Sistem ini diatur dalam Staatblad Tahun 1834 No. 22. Mengutip buku Sejarah oleh Prof. Dr. Habib Mustopo, dkk, berikut isi ketentuan tersebut:

  • Petani harus menyediakan sebagian tanah untuk tanaman ekspor.

  • Luas tanah yang digunakan tidak boleh melebihi seperlima dari total luas lahan pertanian.

  • Pekerjaan untuk menanam tidak boleh lebih berat daripada menanam padi.

  • Hasil panen diserahkan kepada pemerintah Belanda

(SAI)