Siapa Pengganti Ali Khamenei untuk Memimpin Iran? Ini 5 Kandidatnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikabarkan tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2). Setelah 37 tahun memimpin, kepergiannya tentu menjadi babak baru dalam sejarah politik Iran.
Merespons situasi tersebut, pemerintah Iran bergerak cepat untuk menyiapkan proses suksesi. Berdasarkan informasi dari laman Aljazeera, pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih secara langsung oleh rakyat, melainkan oleh sebuah badan khusus bernama Majelis Pakar.
Diketahui bahwa proses pemilihannya memiliki mekanisme yang ketat, dan setiap calon harus memenuhi kriteria tertentu sesuai konstitusi. Lantas, siapa saja kandidat yang dianggap berpotensi menggantikan Ali Khamenei?
Mekanisme Pergantian Pemimpin Tertinggi Iran
Dikutip dari laman CNN, rezim ulama Iran yang berdiri sejak Revolusi Islam 1979 kini memiliki tugas besar, yakni mencari sosok yang mampu menjaga stabilitas sekaligus meneruskan arah ideologi negara.
Selama hampir empat dekade, Khamenei memimpin dengan kendali kuat atas situasi politik, militer, dan lembaga keagamaan. Ia tidak pernah menunjuk pewaris resmi, sehingga proses suksesi sepenuhnya berada di tangan lembaga konstitusional.
Seperti disebutkan sebelumnya, Pemimpin Tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar atau Assembly of Experts, yang terdiri dari 88 ulama senior terpilih. Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Pakar akan segera berkumpul untuk memilih pengganti melalui pemungutan suara.
Daftar Kandidat Pengganti Ali Khamenei
Para ahli dan analis menilai ada beberapa nama yang berpotensi menjadi penerus Khamenei dalam kepemimpinan tertinggi Iran. Dirangkum dari laman CNN dan Al Jazeera, berikut daftar calon suksesornya:
1. Mojtaba Khamenei (56 Tahun)
Mojtaba Khamenei adalah putra kedua Ali Khamenei yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan Basij, dua kekuatan militer penting di Iran. Namun, pergantian dari ayah ke anak kurang disukai dalam tradisi ulama Syiah, terlebih Iran lahir dari revolusi yang menumbangkan monarki.
Selain itu, Mojtaba bukan ulama berpangkat tinggi dan tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan, bahkan pernah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat pada 2019.
2. Alireza Arafi (67 Tahun)
Alireza Arafi merupakan ulama senior yang cukup berpengaruh dalam lembaga keagamaan Republik Islam. Ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli dan pernah menjadi anggota Dewan Garda yang berwenang menyaring kandidat pemilu serta undang-undang.
Arafi dikenal dekat dengan Khamenei dan dianggap memiliki kemampuan administratif yang kuat. Masalahnya, ia bukan figur politik kelas berat dan tidak memiliki kedekatan khusus dengan aparat keamanan.
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri (65 Tahun)
Mohammad Mehdi Mirbagheri adalah tokoh ulama garis keras di pemerintahan dan anggota Majelis Pakar. Saat ini, ia memimpin Akademi Ilmu-ilmu Pengetahuan Islam di kota suci Qom.
Pandangan Mirbagheri cenderung keras terhadap Barat dan menolak kompromi dengan dunia luar. Sikap ideologisnya yang tegas membuatnya dapat banyak dukungan dari kalangan konservatif.
4. Hassan Khomeini (54 Tahun)
Hassan Khomeini adalah cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam. Meskipun belum pernah memegang jabatan publik, Khomeini adalah tokoh reformis yang dikenal karena pandangannya yang cukup moderat tentang kehidupan dan kebijakan publik.
5. Hashem Hosseini Bushehri (70 Tahun)
Hashem Hosseini Bushehri merupakan wakil ketua pertama Majelis Pakar dan memiliki hubungan dekat dengan struktur lembaga suksesi. Ia dikenal dekat dengan Khamenei, meski profilnya relatif rendah di ruang publik.
Bushehri diketahui tidak memiliki hubungan kuat dengan IRGC, namun posisinya di Majelis Pakar memberinya akses langsung dalam proses pemilihan pemimpin baru.
Baca Juga: Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Alasannya
(ANB)
