Sikap Perusahaan Terhadap Penggunaan AI, Ternyata Masih Berbeda-beda

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemanfaatan teknologi AI tidak lagi terbatas di ranah individu saja, tapi mulai diadopsi di beberapa perusahaan. AI dianggap mampu membantu karyawan jadi lebih produktif dan efisien dalam bekerja
Dalam riset kumparan bersama Populix yang bertajuk Indonesia AI Report 2025 disebutkan bahwa 45% perusahaan aktif mendorong penggunaan AI di tempat kerja. Hal ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan perusahaan terhadap kemajuan teknologi, tapi juga kesiapan untuk berkompetisi di era transformasi AI.
Meski begitu, ada juga perusahaan yang belum menerima susupan AI dalam sistem kerja mereka. Simak riset sikap perusahaan terhadap penggunaan AI selengkapnya di bawah ini.
Sikap Perusahaan Terhadap Penggunaan AI
Merujuk data Indonesia AI Report 2025, sikap perusahaan di Indonesia terhadap penggunaan chatbot AI masih beragam, dengan kecenderungan terbesar berada di posisi netral.
Tapi sebagian perusahaan sudah cukup progresif dengan mendorong bahkan mewajibkan penggunaannya, meski jumlahnya masih terbatas.
Di sisi lain, ada pula yang memilih melarang atau tidak mendorong penggunaan AI. Hal ini menandakan belum adanya keseragaman kebijakan.
Selain itu, membuktikan bahwa banyak korporasi yang masih berada di fase transisi, atau meraba-raba posisi yang tepat untuk pemanfaatan chatbot AI. Berikut ini rincian persentase sikap perusahaan terhadap penggunaan AI:
3% Mewajibkan penggunaan
27% Sangat mendorong
15% Agak mendorong
51% Netral
2% Agak tidak mendorong
1% Sangat tidak mendorong
1% Melarang sepenuhnya
Perbedaan kebijakan ini dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya sektor industri perusahaan. Setiap industri menunjukkan karakter yang berbeda dalam era transformasi AI sekarang.
Sektor Digital & Media menunjukkan sikap paling progresif, dengan persentase tertinggi (55%). Hal ini mengindikasikan karakteristik bidang industri yang sangat kompetitif dan akrab dengan teknologi.
Sedangkan sektor Commerce & Consumer Services menunjukkan tingkat kenetralan paling tinggi (60%). Artinya, industri tersebut masih dalam fase mengevaluasi penerapan teknologi AI untuk kegiatan perusahaan.
Sementara itu, meskipun hampir tidak ada sektor yang melarang sepenuhnya penggunaan AI, tapi sektor Knowledge/Regulated Services dan Industrial & Resource cenderung memiliki konsentrasi pengguna di tingkat menengah. Mereka menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati.
Sikap netral dan kehati-hatian ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
Transformasi digital yang masih awal sehingga SDM ahli AI terbatas.
Tingginya biaya investasi awal.
Kebutuhan untuk memitigasi risiko kesalahan AI yang berdampak pada biaya.
Keinginan perusahaan untuk menunggu teknologi yang tepat agar dapat diadopsi tanpa cepat usang.
Belum adanya kepastian regulasi, termasuk implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Meskipun sejumlah perusahaan kurang mendukung penggunaan AI, tapi sebenarnya secara umum (57%) publik telah mengadopsi chatbot AI generatif dalam pekerjaannya. Bahkan, 33% di antaranya mengaku rutin menggunakan chatbot AI generatif dalam pekerjaannya.
Baca hasil riset lengkap Indonesia AI Report 2025 di sini!
Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, Klik “View on Slideshare”
ALTERNATIVE DOWNLOAD LINK: kumparan Indonesia AI Report 2025
Baca Juga: Pekerjaan Berisiko Terdampak AI Menurut Masyarakat dalam Riset Terbaru kumparan
(DEL)
