Konten dari Pengguna

Sudah Musim Kemarau, Kenapa Masih Hujan di Bulan Mei? Ini Penjelasan BMKG

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hujan saat musim kemarau. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan saat musim kemarau. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan bahwa musim kemarau akan melanda Indonesia mulai dari bulan April 2025. Pertanyaannya, kalau memang sudah musim kemarau, kenapa masih hujan di bulan Mei 2025?

Anomali cuaca ini dirasakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Saat pagi hingga siang, cuaca terik seperti di musim kemarau, tapi begitu sore tiba, hujan tiba-tiba mengguyur.

Padahal, BMKG dalam laman resminya menyebutkan bahwa akumulasi curah hujan selama musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksikan akan normal. Lantas, mengapa yang terjadi sebenarnya menunjukkan fakta sebaliknya?

Alasan Kenapa Masih Hujan di Musim Kemarau

Ilustrasi hujan saat musim kemarau. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Merujuk pada pernyataan BMKG di laman resminya, musim kemarau akan terjadi secara bertahap dari bulan April. Wilayah yang pertama kali akan mengalami musim kemarau adalah Nusa Tenggara.

Kemudian, pada bulan Juni, diprediksi sebagian besar wilayah sudah mengalami musim kemarau. Lalu, puncak musim yang kering ini akan terjadi pada bulan Agustus.

Dari hasil prediksi itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa bulan Mei masih masuk dalam masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Jadi, wajar jika ada beberapa kota di Indonesia yang terus diguyur hujan setiap sore hingga malam.

Pernyataan itu diperkuat lagi oleh penjelasan Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., Deputi Bidang Klimatologi BMKG. Dikutip dari kumparanSAINS, ia menganalisa bahwa baru 8 persen Zona Musim (ZOM) yang teridentifikasi masuk musim kemarau sampai awal Mei 2025. Artinya, sebagian besar wilayah memang masih mengalami musim hujan.

“Sebagaimana prediksi BMKG pada Maret 2025, kemarau tahun ini memang diprediksi akan mundur pada 29% zona musim,” tutur Ardhasena melalui pesan singkat kepada kumparan, Rabu (21/5).

Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan bahwa curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini terjadi karena ada gangguan cuaca skala mingguan. Tapi pada akhir Mei nanti, curah hujan diprediksi akan mulai berkurang.

Baca Juga: Penyebab Siang Panas Sore Hujan di Jakarta menurut BMKG

Jadwal Pergerakan Musim Kemarau di Indonesia

Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock

Berdasarkan informasi yang dibagikan di YouTube Info BMKG, musim kemarau diprediksi akan berlangsung dari bagian tenggara pada bulan April, kemudian terus bergerak ke barat, utara, dan berakhir di timur pada bulan Agustus.

Berikut rincian pergerakan musim kemarau di berbagai wilayah setiap bulannya:

Wilayah yang memasuki musim kemarau pada April:

  • Lampung bagian timur

  • Pesisir utara Jawa bagian barat

  • Pesisir Jawa Timur

  • Sebagian Bali

  • Nusa Tenggara Barat

  • Nusa Tenggara Timur

Wilayah yang memasuki musim kemarau pada Mei:

  • Sebagian kecil Sumatera

  • Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur

  • Sebagian Kalimantan Selatan

  • Bali

  • Papua bagian selatan

Wilayah yang memasuki musim kemarau pada Juni:

  • Sebagian besar Sumatera

  • Sebagian besar Jawa bagian Barat

  • Kalimantan bagian selatan

  • Sebagian kecil wilayah di Sulawesi dan Papua

(DEL)