Tata Cara Wukuf di Arafah, Sunnah, dan Etikanya bagi Jamaah Haji

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wukuf di Arafah termasuk ke dalam rukun haji, sehingga wajib untuk dilaksanakan. Wukuf merupakan kegiatan berhenti atau berdiam diri selama beberapa jam di Padang Arafah.
Dalam buku Tuntunan Lengkap Rukun Islam & Doa: Kunci Beragama Secara Kafah (2017), wukuf di Arafah dapat dilaksanakan dari tanggal 9 Dzulhijjah pukul 12.00 siang (waktu setempat) hingga 10 Dzulhijjah ketika matahari terbit. Tata cara wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:
Jamaah haji berada di Arafah saat matahari tergelincir atau pukul 12.00 siang tanggal 9 Dzulhijjah.
Membaca doa tiba di Arafah.
Mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara dijamak takdim (menggabungkan kedua shalat tersebut di waktu Dzuhur). Apabila shalat jamak takdim dilaksanakan berjamaah, maka imamnya disunnahkan untuk berkhotbah untuk memberikan bimbingan wukuf, yakni contoh seruan atau doa-doanya.
Menyegerakan wukuf setelah melaksanakan shalat jamak takdim.
Wukuf dapat dilaksanakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri.
Amalan yang dilakukan selama wukuf adalah dzikir, tadarus Alquran, berdoa, atau amalan lain yang dapat mendekatkan diri pada Allah SWT.
Bacaan Doa Tiba di Arafah
Dalam Buku Pintar Agama Islam Panduan Lengkap Berislam Secara Kafah disebutkan, ketika masuk ke Arafah, jamaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut:
Allahumma ilaika tawajjahtu wa bika’tashamtu wa ‘alaika tawakkaltu. Allahummaj’alnii mimman tubaahii bihil yauma malaa-ikataka innaka ‘alaa kuli syai’in qadiir.
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada Engkau-lah aku menghadap, dengan Engkaulah aku berpegang teguh, dan kepada Engkau-lah aku menyerah diri. Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang yang hari ini Engkau banggakan di hadapan malaikat-Mu. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Amalan Sunnah dan Etika Wukuf
Selain amalan yang terangkum dalam tata cara, terdapat sunnah dan etika yang dianjurkan untuk diterapkan jamaah haji yang melakukan wukuf di Arafah. Berikut amalan sunnah dan etika wukuf di Arafah yang dikutip dari buku Fiqih Islam wa Adilatuhu Jilid 3 Puasa; Itikaf; Haji; Umrah (2021).
Mandi di Namirah
Sebaiknya jamaah haji tidak masuk ke Arafah terlebih dahulu sebelum tergelincirnya matahari.
Lebih afdhal untuk mengerjakan wukuf di sekitar batu-batu besar yang ada di bawah gunung ar-Rahmah.
Lebih afdhal melaksanakan wukuf sambil berkendara daripada berjalan kaki. Sebab, itu yang dilakukan Rasulullah SAW dan dengan berkendara akan membantu jamaah haji untuk lebih fokus dalam berdoa.
Menghadap kiblat, suci, dan menutup aurat.
Wukuf lebih afdhal dilaksanakan dengan tidak bernaung atau langsung berada di bawah terik matahari, kecuali yang ada uzur (sakit).
Tidak berpuasa agar jamaah haji lebih kuat untuk berdoa dan melakukan amalan-amalan lainnya.
Memfokuskan pikiran, tidak memikirkan hal lain yang dapat mengganggu kekhusyukan doa.
Menjauhi perkataan buruk, caci maki, cekcok, dan perkataan keji lainnya. Sebab, itu hanya akan menyia-nyiakan waktu berdoa.
Memperbanyak perbuatan baik di hari Arafah.
Memperbanyak doa, tahlil, bacaan Alquran, istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan memperbanyak tangisan. Sebab, air mata yang tumpah di tempat ini menandakan diampuninya kesalahan-kesalahan.
(DND)
