Konten dari Pengguna

Taukid: Pengertian, Macam-Macam, dan Contoh Kalimatnya Ilmu Nahwu

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memahami taukid. Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memahami taukid. Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

Taukid adalah kata yang dihadirkan untuk menguatkan maksud suatu kejadian sehingga terhindar dari keraguan atau prasangka. Sederhananya, taukid merupakan pengulangan yang dimaksudkan agar lawan bicara yakin dengan apa yang dia dengar.

Mengutip buku Ilmu Nahwu Bahasa Arab, dalam ilmu nahwu, taukid merupakan isim yang mengikuti kata yang dikuatkan, baik dalam keadaan rafa’-nya, nashab-nya, khafadh-nya, maupun ma’rifat-nya.

Ada beberapa huruf taukid yang sering digunakan, yaitu اَلنَّفْسُ (diri), الْعَيْنُ (diri), كُلُّ (semua), أَجْمَعُ (seluruh), dan اَكْتَعُوْنَ اَبْتَعُوْنَ اَبْصَعُوْنَ (lafadz yang mengikuti ajma’u atau seluruhnya). Dengan menggunakan lafadz-lafadz tersebut, lawan bicara tidak akan meragukan makna kalimat yang diucapkan.

Meski begitu, penggunaan huruf taukid harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu mengikuti hukum i’rab seperti muakkad-nya dan isim muakkad-nya berbentuk isim ma’rifat.

Macam-Macam Taukid

Ilustrasi mempelajari taukid. Foto: Din Mohd Yaman/Shutterstock

Ratih dkk dalam Modul Mata Kuliah Tarjamah menjelaskan, taukid terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Taukid Lafdzi

Taukid lafdzi merupakan taukid yang mengulang lafadz pertama dengan lafadz itu sendiri atau dengan lafadz lain yang memiliki arti serupa. Taukid ini terbagi menjadi enam bagian, yakni isim dhohir, isim dhomir, fi’il, huruf, jumlah, dan isim mutarodhif.

Fungsi taukid lafdzi adalah untuk menguatkan ucapan dan menghilangkan keraguan atau kesamaran pada hati pendengar. Misalnya, “Berkata ustadz, ustadz!”, “Saya melihat buaya, buaya.”, “Orang yang pergi itu datang, datang.”

2. Taukid Ma’nawi

Berbeda dengan taukid lafdzi, taukid ma’nawi digunakan untuk menegaskan kalimat dari segi maknanya saja. Jika menggunakan taukid ma’nawi, lafadz taukid-nya harus diakhiri dengan dhamir yang sesuai dengan muakkad-nya, baik dalam mustanna, mufrad, atau jama’-nya.

Mengutip buku Super Kilat Kuasai Bahasa Arab Secara Otodidak oleh Ulin Nuha, ada beberapa lafadz taukid ma’nawi yang sudah ditentukan dan memiliki makna berbeda-beda. Contohnya adalah lafadz اَلنَّفْسُ yang berfungsi untuk menghilangkan kemungkinan adanya perubahan makna, kelalaian, atau kelupaan.

Contohnya, kalimat “Pemimpin itu telah datang” yang terdengar rancu karena tidak ada kejelasan makna apakah yang datang utusan atau tentaranya. Jika ditambahkan lafadz اَلنَّفْسُ, pendengar akan yakin bahwa yang datang adalah benar-benar pemimpin tersebut.

Baca Juga: Contoh Fiil Madhi sebagai Kata Kerja dalam Bahasa Arab

Contoh Kalimat Taukid

Ilustrasi Al-quran. Foto: dotshock/Shutterstock

Agar lebih memahaminya, berikut beberapa contoh kalimat taukid yang dapat dipelajari:

  • Panglima itu sendiri yang telah hadir.

  • Fatimah sendiri yang hadir.

  • Dua lelaki itu sendiri yang datang.

  • Para lelaki itu sendiri yang datang

  • Dua perempuan itu sendiri yang telah datang.

  • Para wanita itu sendiri yang datang.

  • Unta-unta tunggangan itu datang semuanya.

  • Orang-orang Arab semuanya berhati yang satu.

  • Kaum itu telah hadir semuanya.

  • Padanya ada dua mata air yang mengalir. (Alquran surat Ar-Rahman: 50)

  • Setiap manusia terikat dengan apa yang diupayakannya. (QS. Ath-Thur: 21)

(ADS)

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan taukid?

chevron-down

Dalam ilmu nahwu, taukid adalah kata yang berfungsi menegaskan suatu kalimat.

Huruf taukid apa saja?

chevron-down

Ada beberapa huruf taukid yang sering digunakan, salah satunya yaitu اَلنَّفْسُ (diri).

Apa saja macam-macam taukid?

chevron-down

Taukid terbagi menjadi dua macam, yaitu taukid lafdzi dan taukid ma’nawi.