Tembung Camboran: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembung camboran adalah ragam bahasa Jawa yang menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kesatuan yang memiliki arti. Dalam bahasa Indonesia, tembung camboran disebut kata majemuk.
Dalam penggunaannya, tembung camboran menjadi salah satu kosakata ungkapan yang maknanya telah menyatu dan dibuat dengan merangkai kata-kata secara utuh atau disingkat.
Tembung camboran tebagi menjadi beberapa jenis. Berdasarkan bentuknya, tembung camboran dibagi menjadi camboran tugel dan wutuh. Sedangkan, menurut tujuan atau artinya, ada yang disebut camboran tunggal dan wudhar.
Pengertian Tembung Camboran
Dalam bahasa Jawa, kata majemuk dikenal sebagai tembung camboran. Kata majemuk sendiri merupakan gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan arti.
Dikutip dari Parama Sastra Bahasa Jawa oleh Aryo Bimo Setiyanto (2007: 91), tembung camboran yaiku atau tembung camboran artinya adalah dua kata atau lebih yang digabung menjadi satu sehingga membentuk kata baru dan memiliki makna tertentu.
Tembung camboran membentuk suatu kata yang berdiri sendiri (mandiri). Kata tersebut terdiri atas dua buah kata atau lebih dan bentuknya berbeda. Adapun kata-katanya ada yang utuh dan ada pula yang sudah disingkat.
Jenis-Jenis Tembung Camboran dan Contohnya
Mengutip buku Baboning Pepak Basa Jawa oleh Budi Anwari, jenis-jenis tembung camboran adalah sebagai berikut:
1. Camboran Utuh
Camboran utuh adalah dua kata yang digabung menjadi satu dan dua kata tersebut masih utuh, tidak dikurangi atau dipotong. Contoh camboran utuh ialah:
Meja tulis = meja untuk menulis
Pager kayu = pagar yang terbuat dari kayu
Anjani putra = anoman
Bala pecah = barang mudah pecah
Bapa biyung = orang yang mengukir jiwa raga
2. Camboran Tugel/Wancah
Camboran tugel atau wancah adalah dua kata yang digabung menjadi satu dengan mengurangi jumlah suku katanya. Contoh camboran tugel ialah:
Bangjo = abang + ijo
Barbeh = bubar + kabeh
Barji = bubar + siji
Cowek = konco + dhewek
Gowek = tonggo + dhewek
Jiro = siji + loro
Kosik = mengko + dhisik
3. Camboran Tunggal
Camboran tunggal adalah dua kata yang digabung menjadi satu, tetapi antara satu kata dengan kata lainnya tidak bisa dipisah-pisah lagi karena sudah memiliki arti baru. Contoh camboran tunggal ialah:
Naga sari = jenis kue dari tepung beras
Semar mendhem = jenis kue dari ketan
Randha royal = jenis jajanan pasar
4. Camboran Wudhar
Camboran wudhar adalah dua kata yang digabung menjadi satu, tetapi antara satu kata dengan kata lainnya masih memiliki arti sendiri. Contoh camboran wudhar ialah:
Pager wesi = pagar yang terbuat dari besi
Sawo mateng = sawo matang
Buku gambar = buku untuk menggambar
Baca Juga: Macam-Macam Imbuhan dalam Tembung Andhahan Bahasa Jawa
Memahami Afiksasi dalam Bahasa Jawa
Salah satu proses pembentukan kata dalam bahasa Jawa dilakukan dengan pembubuhan afiks atau imbuhan pada bentuk dasar. Proses pembubuhan afiks ini disebut afiksasi.
Dikutip dari Proyek Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa oleh Endang Sri Maruti, dkk., (2022: 46-47), afiksasi dalam bahasa Jawa dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu ater-ater, seselan, panambang, dan imbuhan babarengan. Berikut penjelasannya:
1. Ater-Ater (Prefiks atau Awalan)
Ater-ater atau prefiks merupakan imbuhan yang terletak di depan kata dasar. Adapun imbuhan ater-ater terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
Ater-ater anuswara, yakni berupa -m, -n, ng-, ny-. Contohnya adalah imbuhan m- yang diikuti kata "waca", maka akan berubah menjadi "maca" yang artinya "membaca".
Ater-ater swara irung (suara sengau), yakni berupa dak-, ko-, di-, ka-, ke-, sa-, pa-, pi-, pra-, tar-, kuma-, kapi-, a-, ma, pan-, pam-, pang-. Contohnya adalah imbuhan sa- yang diikuti kata "iji", maka akan berubah menjadi "saiji" yang artinya "hanya satu".
2. Seselan (Infiks)
Seselan atau infiks adalah imbuhan yang disisipkan di tengah atau di dalam bentuk kata dasar. Seselan disebut juga dengan sisipan. Adapun imbuhan seselan yaitu -in-, -er-, -el-, dan -um-.
Sebagai contoh, imbuhan -er- bertemu dengan kata "gandhul", maka akan berubah menjadi "gerandhul" yang artinya "menggantung dalam jumlah banyak".
3. Panambang (Sufiks atau Akhiran)
Panambang atau sufiks adalah imbuhan yang dibubuhkan di belakang bentuk kata dasar. Adapun imbuhan panambang yaitu -ku, -mu, -e, -en, -an, -i, -ake, -a, -na, -ana, dan -ne.
Sebagai contoh, imbuhan -an bertemu dengan kata "tandur", maka akan berubah menjadi "tanduran" yang artinya "tanaman".
4. Imbuhan Bebarengan (Konfiks)
Imbuhan bebarengan atau konfiks adalah imbuhan yang terdiri atas perpaduan pada awalan dan akhiran kata. Adapun beberapa imbuhan bebarengan, yaitu:
ka-/-an
ke-/-en
pa-/-an
pra-/-an
di-/-i
di-/-a
di-/-ana
sa-/-e
Sebagai contoh, imbuhan -ka sebagai awalan dan -an sebagai akhiran bertemu dengan kata "pinter", maka akan membentuk kata "kapinteran" yang artinya "kecerdikan".
(AFM & SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan tembung camboran?

Apa yang dimaksud dengan tembung camboran?
Tembung camboran adalah ragam bahasa Jawa yang menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kesatuan yang memiliki arti.
Apa saja jenis-jenis tembung camboran?

Apa saja jenis-jenis tembung camboran?
Berdasarkan bentuknya, tembung camboran dibagi menjadi camboran tugel dan wutuh. Sedangkan, menurut tujuan atau artinya, ada yang disebut camboran tunggal dan wudhar.
Apa itu camboran utuh?

Apa itu camboran utuh?
Camboran utuh adalah dua kata yang digabung menjadi satu dan dua kata tersebut masih utuh, tidak dikurangi atau dipotong.
