Update Hantavirus di Indonesia, 23 Kasus Terdeteksi Sepanjang 2024-2026

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit hantavirus kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kasus ditemukan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk waspada pada penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat ini.
Kewaspadaan global juga meningkat setelah hantavirus terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Kasus tersebut juga menyita perhatian sejumlah negara karena dilaporkan menyebabkan tiga kematian dan berpotensi menyebar lebih luas.
Di Indonesia sendiri, perkembangan kasus hantavirus kini terus dipantau pemerintah bersama otoritas kesehatan terkait. Lantas, bagaimana update terbaru kasus hantavirus di Indonesia? Mari simak informasinya berikut ini.
Update Kasus Hantavirus di Indonesia
Mengutip laman Kementerian Kesehatan RI, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa seluruh kasus virus Hanta yang ditemukan di Indonesia merupakan jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Jenis ini berbeda dengan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang sempat memicu klaster kematian di kapal pesiar MV Hondius.
Kemenkes juga menyebutkan bahwa virus Hanta tipe HFRS sebenarnya telah terdeteksi di Indonesia sejak 1991. Hingga saat ini, seluruh kasus yang ditemukan diketahui berasal dari strain Seoul virus.
“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5).
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat sebanyak 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah daerah, antara lain:
DKI Jakarta
Jawa Barat
DI Yogyakarta
Sulawesi Utara
Sumatera Barat
Nusa Tenggara Timur
Tren kasus terkonfirmasi juga menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 tercatat 1 kasus konfirmasi, kemudian meningkat menjadi 17 kasus pada 2025, dan hingga Mei 2026 sudah ditemukan 5 kasus tambahan yang masih terus dipantau oleh pemerintah.
Meskipun terjadi peningkatan kasus dibanding tahun 2024, Andi menyebut tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) di Indonesia masih berada dalam rentang global normal.
“CFR-nya, case fatality rate-nya itu 13% ya, tadi saya sudah sampaikan bahwa sebenarnya rata-rata CFR-nya ini adalah sebesar 5 sampai 15%. Berarti secara rata-rata, ya, dalam konteks global gitu, ya, itu masih dalam range yang normal,” imbuh Andi, dikutip dari laman kumparanNEWS.
Cara Penularan Hantavirus
Banyak orang mengira hantavirus menyebar melalui gigitan nyamuk atau makanan tertentu, padahal sumber utamanya berasal dari kotoran dan cairan tubuh tikus yang terinfeksi. Dikutip dari laman Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, berikut beberapa cara penularan hantavirus yang perlu diwaspadai:
1. Penularan Melalui Udara yang Terkontaminasi
Hantavirus umumnya menyebar melalui debu atau udara yang telah terkontaminasi urin, feses, maupun air liur tikus. Partikel kecil dari kotoran tikus yang mengering bisa terbawa udara dan terhirup manusia tanpa disadari.
Penularan seperti ini dikenal sebagai aerosolized excreta dari rodensia. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan yang terdapat manifestasi tikus dan menghirup udara yang tercemar sudah dapat meningkatkan risiko infeksi.
2. Kontak Langsung dengan Tikus atau Permukaan Tercemar
Selain melalui udara, virus juga dapat masuk ke tubuh lewat kontak langsung dengan tikus atau celurut yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi ketika seseorang menyentuh urin, air liur, atau kotoran tikus, terutama jika terdapat luka terbuka pada kulit.
3. Lingkungan yang Berisiko Tinggi
Risiko penularan hantavirus cenderung lebih tinggi di tempat yang memiliki populasi tikus cukup banyak. Karena itu, perlu lebih waspada saat berada di lingkungan yang berpotensi menjadi habitat rodensia.
Beberapa lokasi yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain:
Gudang tertutup yang jarang dibersihkan
Rumah atau bangunan yang lama tidak ditempati
Area bekas banjir yang lembap dan kotor
Tempat penyimpanan barang yang berdebu dan minim sirkulasi udara
Lingkungan dengan banyak tikus atau celurut liar
Semakin sering seseorang terpapar lingkungan tersebut tanpa perlindungan yang memadai, semakin besar pula risiko terkena hantavirus.
Baca Juga: Hantavirus Punya Dua Tipe, Ini Perbedaan Gejala dan Tingkat Bahayanya
(ANB)
