3 Kegiatan yang Diyakini Tak Boleh Dilakukan pada Malam Satu Suro
Tulisan dari Berita Heboh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam satu suro merupakan malam tahun baru menurut kalender penanggalan Jawa. Ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun sejak masa pemerintahan Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645. Ketika ia datang ke Jawa, ia menggabungkan penanggalan Islam dan penanggalan Saka yang diwarisi oleh agama Hindu sehingga dipilihlah tanggal 1 Muharam sebagai tahun baru Jawa.
Jika biasanya malam tahun baru bernuansa pesta yang meriah, justru hal itu tidak berlaku pada malam satu suro. Di tradisi ini, justru nuansa mistisnya sangat terasa karena adanya ritual pembersihan benda keramat maupun jimat seperti keris dan tombak yang juga tidak ketinggalan bau kemenyan yang dibakar. Berikut adalah tiga pantangan besar yang harus dilakukan ketika Malam Satu Suro tiba :
1. Tidak boleh berbicara

ilustrasi berbicara (Sumber: Pixabay)
Ini merupakan bagian dari tapa bisu, yakni ritual berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.Dalam ritual ini, para peserta tidak boleh mengeluarkan sepatah kata pun sebagai tujuan untuk berkaca pada apa yang telah dilakukannya selama setahun terakhir. Selain dilarang mengeluarkan sepatah kata pun, mereka juga tidak boleh makan dan minum serta merokok.
2. Dilarang melakukan pernikahan

Ilustrasi pernikahan (Sumber: Pixabay)
Bulan Suro dianggap sebagai sesuatu yang spiritual oleh karenanya semua masyarakat yang merayakannya harus menghormatinya, salah satunya adalah dengan tidak melakukan pernikahan. Jika dilihat berdasarkan alasan spiritual, pernikahan akan dianggap sebagai acara yang akan menyebabkan Dewa Batara Kala sang penguasa bulan Suro akan memangsa manusia dalam artian nasibnya nanti akan menjadi buruk.
3. Dilarang melakukan hajatan lain yang bisa menyaingi ritual Kraton

Ilustrasi hajatan (Sumber: Pixabay)
Malam satu suro ini bertujuan agar masyarakat bisa menggunakan waktunya untuk beribadah, merenunung dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruknya. Berbagai hajatan seperti sunatan, pendirian rumah dan pindah rumah dianggap sebagai sesuatu yang bersifat duniawi karena akan banyak menghabiskan banyak uang. Manusia juga perlu beristirahat dalam hal ekonomi, sehingga dengan adanya tradisi ini mereka bisa "mengistirahatkan" pengeluaran mereka dari kegiatan-kegiatan yang biasanya mereka lakukan sebelumnya.

