Pencarian populer
USER STORY

4 Suku yang Paling Ditakuti Kompeni Belanda di Masa Penjajahan

Suku Dayak (Foto: Antara Foto/Zabur Karuru)

Indonesia dikenal dengan keberagaman suku dan budayanya. Suku-suku di Indonesia sebenarnya telah ada jauh sebelum penjajah masuk ke Tanah Air.

Setelah penjajah masuk, seluruh rakyat Indonesia tentu saja berusaha mempertahankan Tanah Air tercinta. Tak terkecuali mereka suku-suku atau masyarakat asli di tiap daerah.

Tahukah kamu ternyata ada sejumlah suku di tanah air yang sangat ditakuti oleh penjajah? Yuk simak ulasannya.

1. Dayak

Saking ditakutinya, Kompeni Belanda memberi julukan 'pasukan hantu' kepada para ahli perang dari suku Dayak. Julukan itu ternyata karena kemampuan perang orang-orang Dayak yang mengerikan.

Suku Dayak adalah suku yang diketahui tinggal dan melakukan aktivitas di dalam hutan. Inilah alasan mengapa Belanda sulit menaklukkan orang-orang Dayak. Selain karena menguasai Medan, menurut pasukan Belanda, orang-orang dayak mempunyai kemampuan berkamuflase yang sangat hebat ketika berada di hutan.

Tak hanya itu, orang-orang dayak juga dikenal memiliki kemampuan bertarung yang handal. Selain hebat dalam bertarung jarak dekat menggunakan Mandau-nya, suku Dayak juga lihai bertarung jarak jauh menggunakan sumpit tiup yang beracun.

Konon, Mandau Dayak itu mampu terbang sendiri dan mencari musuh. Sementara sumpit tiup itu tak kalah mematikannya dengan senapan sniper milik penjajah, karena di ujung sumpit tiup telah diolesi racun dari getah Ireng.

2. Buton

Konon satu-satunya wilayah yang tidak dijajah oleh Belanda adalah Buton, Sulawesi Tenggara. Dulunya sebelum Indonesia ada, Buton lebih mirip negara monarki, karena mempunyai pemimpin atau raja, perdana menteri, tentara dan rakyat sendiri.

Kerajaan Buton sejak dulu dikenal sebagai kerajaan yang sangat kuat. Di abad pertengahan ketika penjajah dari Belanda dan Portugis melakukan ekspansi ke Maluku untuk mencari rempah-rempah, Buton dianggap wilayah yang strategis. Sebelum tiba di Maluku, kapal-kapal mereka akan singgah terlebih ke Buton terlebih dahulu.

Tak hanya strategis, Buton juga dikenal memiliki hasil bumi yang berlimpah, terutama rempah-rempah. Meski begitu, Belanda ternyata segan untuk menjajah Buton.

Dengan Kerajaan Buton yang kuat, tampaknya Belanda tak mau mencari masalah. Daripada mereka kesulitan mendapat rempah-rempah lebih baik menjalin hubungan yang baik saja dengan Kerajaan Buton.

3. Nias

Salah satu daerah di Indonesia yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda adalah Nias. Nias memang terkenal dengan suku-sukunya yang mahir dalam bertarung.

Wilayah yang paling sulit ditaklukkan di Nias adalah Kabupaten Nias Selatan, tepatnya di Orahili Fau, banua raja Lahelu’u Fau yang secara administratif kini dikenal sebagai Desa Orahili Fau di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan.

Belanda harus menelan kekalahan berkali-kali saat melawan petarung-petarung dari Nias. Tak terhitung jumlah berapa kali orang-orang dari suku Nias Selatan berhasil mengusir Belanda dari tanah kelahiran mereka. Hingga akhirnya Belanda memberi julukan kepada Lahelu’u sebagai De Verdrijver der Hollanders (pengusir orang-orang Belanda).

Tahun 1864 menjadi tahun efektifnya Belanda menguasai Nias. Jadi Belanda butuh waktu 171 tahun (1693-1864) untuk bisa benar-benar menguasai Nias. Dan Belanda menjajah Nias 81 tahun (1864-1945), bukan 350 tahun sebagaimana anggapan selama ini.

4. Batak

Wilayah yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda di pulau Sumatra adalah wilayah Aceh dan Tanah Batak, kala itu dua wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Kerajaan Batak yang dipimpin oleh Sisingamangaraja XII.

Belanda selalu kerepotan ketika harus berhadapan dengan tentara dari suku Batak. Belum lagi raja Batak, Sisingamangaraja, diketahui memiliki kesaktian yang luar biasa yang ia warisi secara turun temurun.

Butuh waktu sekitar 29 tahun lamanya untuk Belanda mampu menaklukkan Batak. Perang antara Belanda dan Batak itu mulai dari tahun 1849 sampai dengan 1907. Belanda harus berkorban banyak untuk bisa mengalahkan Sisingamangaraja XII.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57