Konten dari Pengguna

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui

Berita Heboh

Berita Heboh

Membicarakan apa saja yang sedang ramai.

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Heboh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tan Malaka Muda (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Tan Malaka Muda (Foto: Istimewa)

Pasca kemerdekaan ada banyak sekali tokoh-tokoh pejuang yang kemudian bersebrangan pikiran dengan pemimpin-pemimpin negeri. Itulah mengapa setelah proklamasi kemerdekaan banyak terjadi pemberontakan.

Sebut saja pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia atau yang lebih dikenal dengan pemberontakan DI/TII. Masing-masing dalang dari pemberontakan itu adalah orang yang juga dulunya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia loh.

Jadi jangan salah, para pemberontak itu semasa sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tapi sayang dalam catatan sejarah mereka lebih dikenal sebagai pemberontak dan bukan sebagai pahlawan.

Siapa sajakah mereka? Yuk simak.

1. Kartosuwiryo

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui (1)
zoom-in-whitePerbesar

Nama lengkapnya adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, ia lebih akrab dipanggil Kartosuwiryo. Dia adalah tokoh utama pemberontakan Darul Islam (DI) yang belakangan lebih dikenal dengan pemberontakan DI/TII.

Tapi jangan salah dia juga banyak berjasa pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Kartosuwiryo pernah bergabung dengan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan banyak melakukan penentangan terhadap bangsawan Jawa yang masih bekerja sama dengan Kompeni. Tak hanya itu, ia juga dengan keras menolak organisasi diikutinya bekerja sama dengan Belanda dalam hal apapun.

Pada masa kemerdekaan, Indonesia memang masih berdiplomasi dengan Belanda dan membuat posisi Indonesia menjadi lemah. Perpecahan pun mulai terjadi, apalagi setelah Belanda hanya mengakui wilayah Yogyakarta, sementara wilayah lainnya hanyalah wilayah persemakmuran.

Melihat posisi Indonesia yang lemah itu, Kartosuwiryo kemudian mendirikan Negara Islam di Jawa Barat, alasannya adalah ia tidak ingin bangsanya di jajah lagi.

Sayangnya setelah Indonesia benar-benar telah mandiri dan menjadi negara kesatuan, Negara Islam Indonesia terlanjur dibentuk oleh Kartosuwiryo, maka ia dan kelompoknya kemudian dianggap sebagai pemberontak. Hingga akhirnya dia dieksekusi mati oleh tentara Indonesia.

2. Sultan Hamid II

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui (2)
zoom-in-whitePerbesar

Pria dengan nama asli Syarief Abdul Hamid Alkadrie ini dianggap sebagai sosok di balik pemberontakan APRA atau Angkatan Perang Ratu Adil. Pemberontakan APRA adalah pemberontakan menginginkan agar Indonesia menjadi negara Federal.

Hal tersebut muncul karena keinginan daerah Kalimantan Barat yang memiliki banyak kesultanan juga tetap berdiri sebagai daerah istimewa, sama seperti Kesultanan Yogyakarta.

Meski begitu, Sultan Hamid II punya andil besar dalam masa pasca kemerdekaan. Tidak banyak yang tahu kalau Sultan dari kesultanan Pontianak ini adalah perancang lambang Garuda Pancasila.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai menteri negara dalam kabinet Hatta meski tanpa portofolio. Ia juga memanfaatkan kedekatannya dengan Ratu Yuliana dan membujuk sang ratu untuk menyerahkan seluruh wilayah bekas jajahan Belanda kepada kedaulatan Republik Indonesia.

Sebenarnya, Sultan Hamid II membantah semua tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam pemberontakan APRA. Tetapi dalam persidangan, Mahkamah Agung memutuskan Sultan Hamid II bersalah walau tanpa bukti yang cukup kuat. Beberapa pihak menduga bahwa kasus yang mengaitkan Sultan Hamid hanyalah rekayasa untuk membubarkan negara Federal.

Empat tahun setelah bebas dari penjara, ia ditangkap lagi dengan tuduhan makar dan mendirikan organisasi rahasia yang diberi nama Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC). Ia ditahan selama 4 tahun dan baru bebas setelah era Sukarno lahir. Penangkapan tersebut diduga terjadi bukan berdasarkan fakta dan hanya omong kosong belaka karena sejak bebas dari penjara, Sultan Hamid tidak pernah lagi terlibat urusan politik.

3. Tan Malaka

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui (3)
zoom-in-whitePerbesar

Perjuangan Ibrahim Datuk Sutan Malaka dalam merebut kemerdekaan dan revolusi Indonesia tak perlu diragukan lagi. Pria yang lebih akrab disapa Tan Malaka ini, merupakan orang yang pertama kali mencetuskan konsep Republik Indonesia melalui buah pikirannya di buku 'Naar de Republiek Indonesia' atau 'Menuju Republik Indonesia' pada 1925. Buku itu kemudian yang menjadi inspirasi beberapa bapak negara seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya.

Tan Malaka adalah sosok yang begitu membenci ketidakadilan dan merupakan seseorang yang begitu peduli dengan nasib buruh. Hal inilah yang membuatnya bergabung dengan ISDV, yang kemudian menjadi PKI.

Di balik namanya yang menjadi salah satu sosok utama PKI di Indonesia, Tan Malaka sesungguhnya adalah orang yang sangat berjasa untuk Negeri. Bahkan beberapa kisah menyebutkan bahwa Tan Malaka sendiri sempat menjadi musuh PKI semasa kepemimpinan DN Aidit.

Tan Malaka kala itu mengumumkan diri sebagai pemimpin baru Indonesia setelah Soekarno dan Hatta ditangkap oleh Belanda, menurut catatan sejarah hal itu sesuai dengan ketetapan politik yang diberikan Soekarno kepadanya.

Pengumuman itu kemudian dianggap sebagai pemberontakan oleh tentara Indonesia. Tan Malaka kemudian berhasil ditangkap oleh pasukan dari Panglima Divisi Jawa Timur dan ditembak mati pada 21 Februari 1948.

14 tahun setelah meninggal, Soekarno menganugerahi gelar Pahlawan kepada Tan Malaka. Namun, semasa Orde Baru, kisah-kisah tentang Tan Malaka dihilangkan dari sejarah Indonesia. Barulah setelah masa Orde Baru berakhir, Buku-buku tentang Tan Malaka kembali banyak beredar.

4. Alex Evert Kawilarang

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui (4)
zoom-in-whitePerbesar

Kolonel Inf. (Purn.) Alexander Evert Kawilarang adalah seorang Perwira TNI pada masa Revolusi Nasional Indonesia, dia juga merupakan mantan anggota KNIL. Tak banyak yang tahu kalau Alex Kawilarang adalah pendiri Kesko TT yang kemudian menjadi Kopassus.

Pada 1958, Alex Kawilarang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat. Kemudian ia bergabung dalam pemberontakan Permesta atau Perjuangan Rakyat Semesta di Sulawesi Utara. Pemberontakan itu membuatnya harus melawan pasukan Kopassus yang ia bentuk sendiri sebelumnya.

Pemberontakan Permesta sebenarnya bukanlah usaha untuk memisahkan diri dari Indonesia. Pemberontakan terjadi karena pemerintah pusat dinilai tebang pilih dalam mengembangkan ekonomi Indonesia. Pemerintahan Soekarno dianggap menganaktirikan daerah-daerah di luar Pulau Jawa.

Pemberontakan tersebut akhirnya berhasil ditumpas. Alex Kawilarang menerima amnesti dan abolisi dari Presiden Soekarno namun memilih pensiun dari ketentaraan.

Namanya kemudian direhabilitasi dan pangkatnya diturunkan menjadi kolonel purnawirawan. Jasa-jasanya baru diakui dan diberi penghargaan setelah masa pemerintahan B.J. Habibie. Kemudian baru pada 15 April 1999 jasanya sebagai sosok yang membentuk Kopassus diakui.

5. Mohammad Natsir

5 Tokoh Pejuang yang Nyaris Tak Diakui (5)
zoom-in-whitePerbesar

Mohammad Natsir adalah sosok yang begitu dihormati di dunia Islam, namun dilupakan di negerinya sendiri. Pria yang banyak mendapatkan penghargaan dan gelar kehormatan dari negara-negara Islam berkat jasa dan pemikirannya yang selalu bersebrangan dengan pemerintah di era Soekarno maupun Soeharto.

Soekarno dan Natsir sering bersiteru dan berselisih paham. Soekarno yang nasionalisme mengkritik Islam sebagai ideologi serta memuji sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di masa Kesultanan Ustmaniyah. Sementara itu, Natsir menyebut bahwa hancurnya kesultanan Utsmaniyah karena dampak negatif sekularisasi.

Belakangan Soekarno kemudian mendesak Manai Sophiaan serta para menteri dan anggota parlemen PNI untuk menjatuhkan Kabinet Natsir sebelum ia akhirnya mengundurkan diri.

Mohammad Natsir yang terlibat pertentangan sengit dengan pemerintah itu akhirnya bergabung dengan PRRI yang kemudian berubah nama menjadi Permesta setelah meninggalkan pulau Jawa.

PRRI atau Permesta sejatinya menuntut otonomi daerah yang lebih luas, namun disalahtafsirkan oleh Soekarno sebagai pemberontakan sehingga ia ditangkap dan dipenjara.

Karena keterlibatannya dengan Permesta, ia harus dipenjara dan keluarganya kehilangan rumah serta harta mereka karena diambil pemerintah. Di era Orde baru, ia mengkritik pemerintahan Soeharto yang menganggap dirinya sebagai pengejawantahan Pancasila. Sementara itu, Soeharto menganggap orang yang mengkritik dirinya sebagai penentang Pancasila.

Foto dari berbagai sumber.