7 Kisah dari Satu-satunya Korban Selamat dalam Kecelakaan Pesawat

Membicarakan apa saja yang sedang ramai.
Tulisan dari Berita Heboh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kematian memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, ada beberapa orang yang beruntung dan mampu menunda datangnya ajal mereka. Berikut adalah 7 kisah satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan pesawat:
1. Vesna Vulovic

Vesna Vulovic di usia tuanya (Foto: nytimes.com)
Vesa Vulovic adalah pramugari yang sedang bertugas dalam penerbangan JAT Yugoslav Airlines penerbangan 367 saat pesawat itu meledak. Penerbangan dengan rute Stockholm, Swedia menuju Kopenhagen, Denmark pada 26 Januari 1972 ini disinyalir meledak akibat bom yang ditanam oleh teroris Kroasia. Penerbangan tersebut membawa total 23 penumpang dan 5 kru.
Pesawat meledak saat berada di ketinggian lebih dari 33,000 kaki (kurang lebih 10 km). Vesa menjadi satu-satunya korban yang selamat dari kejadian itu. Dia ditemukan terjebak di antara puing-puing pesawat oleh Bruno Honke, seorang penduduk desa yang tinggal di dekat lokasi jatuhnya pesawat.
Akibat kejadian ini, Vesa koma selama beberapa hari dan menderita kelumpuhan permanen dari pinggang ke bawah. Dia pun tercatat di dalam Guinness Book of World Record sebagai pemegang rekor orang yang selamat jatuh dari ketinggian tanpa parasut paling tinggi di dunia.
2. George Lamson Jr.

George Lamson Jr. di rumah sakit (Foto: USA Today)
Pada 21 Januari 1985, pesawat Galaxy Airlines penerbangan 203 yang ditumpangi George Lamson Jr. jatuh dan meledak setelah lepas landas. Pesawat yang membawa 65 penumpang dan 6 kru ini jatuh akibat kesalahan kapten pilot dan co-pilot.
George Lamson Jr. yang kala itu berusia 17 tahun terbang bersama sang ayah. George selamat karena dia terpental dari dalam pesawat saat pesawat itu jatuh. Dia ditemukan dalam kondisi sadar dan lengkap dengan kursi penumpang serta sabuk pengaman yang masih terkunci di pinggangnya. Sebenarnya, sang ayah juga ditemukan selamat bersama satu orang lainnya. Namun, keduanya akhirnya meninggal akibat luka-luka berat yang mereka dapatkan.
3. Juliane Koepcke

Juliane Koepcke (Foto: lifedaily.com)
Rencana Juliane Koepcke dan ibunya untuk mengunjungi ayahnya yang sedang bekerja di Pucallpa, Peru berubah menjadi petaka. Juliane dan ibunya menaiki pesawat LANSA penerbangan 508 pada 24 Desember 1971. Penerbangan yang membawa 86 penumpang dan 6 kru itu terjebak di dalam badai. Tiba-tiba sayap kanan pesawat itu tersambar petir yang memicu api di tangki bahan bakar. Pesawat itu meledak dan Juliane terjauh dari ketinggian kurang lebih 10,000 kaki (sekitar 3 km) sebelum mendarat di pepohonan Hutan Amazon.
Selama 10 hari, Juliane berjuang untuk bertahan hidup meskipun dia menderita luka-luka yang cukup parah. Dia hanya mengandalkan permen yang masih ada di sakunya dan berjalan mengikuti aliran sungai. Pada hari ke-9, Juliane menemukan perahu kecil di tepi sungai, namun dia tidak menggunakannya karena dia tidak mau mencuri. Sang penebang kayu yang memiliki perahu tak lama kemudian datang dan merawat luka-lukanya. Keesokannya, Juliane akhirnya dievakuasi keluar dari hutan. Ibunya dan 13 orang lainnya sebenarnya selamat, namun akhirnya mereka meninggal akibat menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
4. Nestor Mata

Nestor Mata di usia tuanya (Foto: news.abs-cbn.com)
Nestor Mata adalah satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan pesawat Cebu Douglas C-47. Kecelakaan ini menewaskan 20 penumpang beserta 5 kru pada 17 Maret 1957. Presiden Filipina Ramon Magsaysay turut menjadi korban dalam kejadian ini. Padahal, penerbangan Cebu Douglas C-47 menggunakan pesawat yang baru dibeli dan catatan jam terbang menunjukkan pesawat ini baru digunakan kurang dari 100 jam terbang.
Nestor adalah seorang jurnalis. Dia sedang setengah tidur ketika pesawat itu terjatuh. Dia tidak sadarkan diri selama berjam-jam setelah membentur tanah. Saat terbangun, dia segera berusaha mencari Presiden Ramon dan teman-temannya dengan berteriak, namun tidak ada yang menjawabnya. Dia diselamatkan oleh Marcelino Nuya dan beberapa orang petani yang tinggal di dekat lokasi. Nestor menderita luka bakar berat di sekujur tubuhnya akibat kecelakaan ini.
5. Bahia Bakari

Bahia Bakari (Foto: edition.cnn.com)
Pesawat Yemenia penerbangan 626 dari Sana’a, Yamen menuju Moroni, Komoro terjatuh ke laut saat akan mendarat. Penerbangan pada 30 Juni 2009 ini membawa 142 penumpang dan 11 kru. Salah satu dari kru kabin yang menjadi korban adalah orang Indonesia.
Bahia Bakari menjadi satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan itu. Gadis yang berusia 15 tahun itu ditemukan setelah mengapung sambil berpegangan pada pecahan pesawat selama 9 jam. Ibu Bahia turut menjadi korban dalam kecelakaan ini.
6. Annette Herfkens

Annette Herfkens (Foto: beautifulhumans.info)
Cerita Annette Herfkens hampir sama dengan Juliane Koepcke. Pesawat Vietnam Airlines penerbangan 474 yang ditumpanginya menabrak gunung pada 14 November 1992. Dia menumpangi pesawat itu bersama tunangannya dan 29 orang lainnya.
Tim penyelamat membutuhkan waktu 8 hari untuk menemukan puing-puing pesawat dan Annette. Selama 8 hari, Annette hanya mengandalkan air hujan untuk bertahan hidup. Sebenarnya masih ada beberapa penumpang yang selamat setelah tabrakan terjadi, namun mereka tidak bisa bertahan. Annette pun menuliskan pengalamannya ini dalam sebuah memoar berjudul Turbulence: A True Story of Survival.
7. Chanayuth Nim-anong

Keadaan pesawat Vietnam Airlines 815 setelah terjatuh (Foto: Choi Gwang Mo / Wikipedia)
Chanayuth Nim-anong adalah korban selamat dalam kecelakaan pesawat termuda sepanjang sejarah. Pada 3 September 1997, pesawat Vietnam Airlines penerbangan 815 jatuh tak jauh dari landas pacu bandara Pochentong, Phnom Penh, Vietnam. Pesawat tersebut jatuh dan hancur lebur akibat kesalahan pilotnya.
Berada dalam gendongan sang ibu, Chanayuth kala itu masih berusia 14 bulan. Chanayuth “hanya” menderita patah kaki, sementara sang ibu meninggal. Ayah Chanayuth menemukannya saat dievakuasi dan segera membawanya ke rumah sakit.
