Pencarian populer
USER STORY
10 Desember 2018 9:40 WIB
..
..

Madhumala, Satu-satunya Wanita yang Berhasil Taklukkan Suku Sentinel

(Foto: Thebetterindia.com/ Facebook: Madhumala Chattopahdyay)

Dianggap sadis dan berbahaya, suku Sentinel memang kerap menyerang siapa pun orang asing yang berani masuk ke daerahnya, yaitu di sebuah pulau kecil bernama Andaman, di India.

Dilansir dari laman kumparan, belum lama ini juga seorang turis Alabama, Amerika Serikat bernama John Allen Chau dikabarkan tewas akibat serangan suku Sentinel. Meski belum ditemukan jasadnya, namun salah seorang nelayan mengaku bahwa pria malang tersebut diduga dibunuh dengan luka tusukkan anak panah, lalu jasadnya dikubur di sekitar pantai.

(Foto: Instagram/@johnchau)

Suku Sentinel dikenal berbahaya, bahkan disebut-sebut sebagai suku terganas di dunia. Pasalnya, suku tersebut sangat terisolir dan menolak kontak dengan dunia luar atau kehidupan modern.

Hal yang sama ternyata juga terjadi oleh penduduk sekitar, seperti dua orang nelayan yang tewas dengan cara serupa. Bahkan mereka juga menyerang para tim penyelamat pasca-terjadinya tsunami, dari atas helikopter dengan anak panah.

Entah apa yang ada dipikiran mereka tentang orang asing atau penduduk luar, sehingga mereka sama sekali tak bisa menerima pendatang. Bahkan pihak pemerintah India pun melarang kunjungan ke tempat mereka karena sangat berbahaya.

Namun meski dikenal sangat berbahaya dan tidak ramah terhadap pendatang, namun siapa sangka bahwa dulu pernah ada seorang wanita yang berhasil mendarat dengan selamat dan menaklukkan suku tersebut.

(Foto: Thebetterindia.com/ Facebook: Andaman & Nicobar Islands)

Dilansir dari laman Thebetterindia.com, dia adalah Madhumala Chattopahdyay, seorang pejabat sekaligus peneliti senior di Kementerian Keadilan dan Pemberdayaan Sosial, India. Tepat pada tanggal 4 Januari 1991, Madhumala adalah orang pertama yang berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan suku Sentinel, di pulau Andaman, India.

Madhumala membuktikan bahwa tindakan yang ia lakukan adalah jauh dari sebuah kebenaran yang selama ini menjadi ketakutan, karena sejatinya suku tersebut adalah suku paling berbahaya dan terganas di dunia.

(Foto: Thebetterindia.com/ Facebook: Madhumala Chattopahdyay)

“Tidak pernah dalam enam tahun saya melakukan penelitian sendiri dengan suku-suku Andaman. Tidak ada pria yang bertingkah laku dengan saya. Suku-suku mungkin primitif dalam pencapaian teknologi mereka, tetapi secara sosial mereka jauh di depan kita,” ungkapnya kepada Bengal Publication, pada tahun 2015 lalu.

Tidak hanya itu, Madhumala ternyata sudah sangat tertarik dengan dunia suku-suku di kepulauan Andaman sejak berusia 12 tahun. Di mana saat itu tengah menemukan kliping berita di rumahnya di daerah pinggiran Shibpur, Kolkata, yang berbicara tentang kelahiran seorang anak di atanra suku Onge yang hampir punah.

Dari keinginannya itulah, Madhumala yang telah mempelajari antropologi di bangku kuliah dan berani mengajukan permohonan beasiswa PhD ke Antropological Survey of India untuk melakukan penelitian lapangan di pulau-pulau terpencil ini.

Namun, jalannya untuk melakukan penelitian ternyata tak semulus perkiraannya. Banyak kekhawatiran yang melanda yang memungkinkan hal yang tidak aman untuk melakukan penelitian ke pulau-pulau tersebut.

Tetapi, solusi pun akhirnya datang ketika komite meminta ibu Madhumala untuk menandatangani suatu permohonan bahwa ASI (Antropological Survey of India) tidak akan bertanggung jawab jika ada sesuatu yang tidak menguntungkan yang terjadi selama penelitian.

Dan pada akhirnya ibu Madhumala menandatangani surat tersebut. Selama enam tahun berikutnya, ia melakukan penelitian tentang suku-suku Andaman.

Sampailah pada hari-hari yang ditunggu oleh Madhumala, yaitu tanggal 4 Januari 1991. MV Tarmugli menjatuhkan jangkarnya di dekat bagian barat daya Pulau Sentinel. Dari sana 13 awak dibawa dengan perahu kecil ke pulau.

Ketika mereka melakukan pendekatan, saat itulah para pejabat dan peneliti di kapal pertama kali melihat Sentinelese, beberapa dari mereka bersenjata busur dan panah.

Pihak yang berkunjung mengambil inisiatif menjatuhkan kelapa di dalam air. Tiba-tiba, sekelompok kecil Sentinel mendekati mereka dengan sampan dan mengambil persembahan.

Namun, mereka tetap pada senjatanya masing-masing dengan busur panah yang menghadapkan ke para pendatang. Namun, tanpa diduga, ketika penempak panah itu hendak melepaskan panahnya ke arah pendatang, seorang wanita Sentinel berdiri di dekatnya dan melakukan dorongan sehingga panah tersebut meleset tanpa melukai siapapun.

(Foto: Thebetterindia.com/ Facebook: Madhumala Chattopahdyay)

Melihat seorang wanita Senitinel itu dan mengandaikan bahwa mereka tidak mengancam setelah insiden itu, Madhumala langsung masuk ke dalam air dan memberika kelapa secara pribadi.

Ini adalah sejarah dalam pembuatannya. Kontak damai pertama antara sentinelese dan pihak luar yang dipicu oleh kehadiran seorang wanita.

Kasus yang menimpa John Allen Chau, membawa perspektif unik dan sangat dibutuhkan.

“Tetapi bukan seperti mereka menyerang pertama kali, mereka menunjukkan tanda-tanda peringatan melalui gerakan wajah, pisau, busur dan panah dan kemudian mengambil tindakkan jika mereka tidak dihargai. John Allen Chau pasti menghadapi situasi yang sama,” katanya kepada The Print.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: