Pencarian populer
USER STORY

Negara-negara yang Pernah Menolak Jadi Tuan Rumah Asian Games

Foto: (Reuters)
Gelaran Asian Games 2018 tak lama lagi akan berakhir. Sejumlah pertandingan sudah mencapai babak final. Akan ditutup pada 2 September 2018, event ini menyisakan berbagai macam kenangan.
ADVERTISEMENT
Indonesia, sebagai negara penyelenggara, tentu boleh berbangga diri atas suksesnya event terbesar Asia ini. Kendati demikian, menjadi tuan rumah bukanlah hal yang mudah. Beberapa negara sempat menolak menjadi 'pusat perhatian se-Asia', bahkan dunia.
Dengan alasan tertentu, inilah negara yang pernah menolak saat ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games.
1. Korea Selatan
Foto: (Reuters)
Negara Korea Selatan sudah terpilih menjadi tuan rumah Asian Games 1970. Namun, mereka secara mengejutkan menolak menjadi penyelenggara Asian Games ke-7 ini. Alasan yang diberikan adalah masalah keuangan dan keamanan negara mereka yang menerima ancaman dari Korea Utara.
Akhirnya, penyelenggara edisi sebelumnya kembali menawarkan diri, yaitu Thailand yang menjadi tuan rumah Asian Games untuk ke-2 kalinya.
ADVERTISEMENT
2. Singapura
Foto: (Reuters)
Setelah Indonesia menjadi tuan rumah pada 1962, Thailand pada tahun 1966 dan 1970, kini giliran Singapura menjadi negara ke-3 dari Asia Tenggara yang miliki kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games 1978.
Akan tetapi, Singapura menyatakan tidak bisa penuhi keharusan mereka menjadi tuan rumah. Argumen masalah keuangan, mereka munculkan sebagai alat penolakan. Akhirnya Pakistan menjadi opsi tuan rumah Asian Games 1978 tersebut.
3. Pakistan
Foto: (Reuters)
Opsi menjadikan Pakistan sebagai tuan rumah penyelenggara Asian Games 1978 ternyata juga gagal. Setelah Singapura mundur, Pakistan juga menarik diri karena kondisi negara yang tidak stabil akibat berseteru dengan Bangladesh dan India kala itu.
Setelah proses yang alot pada 1978 tersebut, untungnya Thailand menyerahkan diri. Thailand kembali menyediakan arena pertandingan Asian Games 1978. Sekitar 3.842 atlet dari 19 negara bersaing di 19 cabang olahraga mengadu kemampuan mereka di Thailand saat itu.
ADVERTISEMENT
Akhirnya Asian Games ke-8 1978 resmi dibuka Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, di Stadion Nasional Thailand.
4. Uni Emirat Arab (UEA)
Foto: (Reuters)
Penunjukan tuan rumah gelaran Asian Games 2019 telah dilakukan sejak 2011. Negara yang menjadi nominasi tuan rumah adalah Uni Emirat Arab (UEA) dan Vietnam.
Melihat kekayaan dan kemajuan UEA tentu akan mudah menyaingi Vietnam sebagai opsi lainnya yang juga mencalonkan diri sebagai penyelenggara. Akan tetapi, UEA seketika menarik diri pada saat-saat terakhir pemilihan tanpa pembeberan alasan apapun.
5. Vietnam
Foto: (Reuters)
Menjadi satu-satunya calon penyelenggara untuk Asian Games 2019, Vietnam mulai bersiap. Tender sudah dimenangkan pada November 2012. Akan tetapi, 18 April 2014 surat kabar Tuoi Tre di Vietnam mengeluarkan judul besar dalam halaman utama. Tertulis "A decision that wins the heart of the people”.
ADVERTISEMENT
Tuoi Tre membuat judul itu sebagai respons dari pernyataan Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung, yang dengan tegas menyampaikan Vietnam menarik diri sebagai tuan rumah Asian Games 2019.
Keputusan Pemerintah Vietnam ternyata disambut gembira oleh rakyatnya. Bangganya rakyat Vietnam kala itu dikarenakan keputusan pemerintah sangat tepat. Rakyat Vietnam tidak senang karena Asian Games akan menguras kas negara yang tengah mengalami krisis.
Menurut Tan Dung, kas negara tidak cukup untuk menutupi biaya penyelenggaraan Asian Games 2019, meski efisiensi belanja negara di berbagai kementerian dan lembaga Vietnam sudah dilakukan. Keputusan ini menilik biaya yang dikeluarkan Korea Selatan pada Asian Games Incheon 2014 yang mencapai 14 triliun rupiah.
Dengan mundurnya Vietnam, artinya Komite Olimpiade Asia (OCA) akan menunjuk langsung tuan rumah pengganti. Menaggapi hal ini, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo menyatakan kesiapan Indonesia. Setelah diskusi panjang, akhirnya Indonesia terpilih untuk kali kedua sebagai tuan rumah.
ADVERTISEMENT
Gelaran Asian Games ke-18 ini juga disepakati untuk maju satu tahun dari yang direncanakan pada 2019. Tahun 2018 dipilih untuk menghindari pemilihan legislatif dan pemilihan presiden Indonesia pada 2019.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86