Viral Kisah Pilu Warganet dan Kenangannya dengan Waluh Kukus

Membicarakan apa saja yang sedang ramai.
Konten dari Pengguna
19 Juli 2021 13:18
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Heboh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Viral Kisah Pilu Warganet dan Kenangannya dengan Waluh Kukus (25696)
searchPerbesar
Ilustrasi media sosial Twitter. Foto: Shutter Stock
Seorang warganet di Twitter dengan akun @ainayed sedang menjadi sorotan di media sosial. Kisah pilunya menjadi viral dan menyentuh hati banyak orang.
ADVERTISEMENT
Berawal dari membalas salah satu unggahan tweet yang melampirkan foto labu atau bisa disebut waluh, ia mengatakan bahwa dirinya memiliki trauma dengan makanan tersebut.
Di awal cerita dalam thread yang ia buat, dia mengatakan selalu menangis kalau mengingat tentang waluh kukus.
Dirinya bilang ketika masih kecil, ia menjalani kehidupan kurang mampu secara finansial. Ibunya sebagai orang tua tunggal bekerja menjadi buruh apa pun agar mendapatkan upah.
Upah yang diterima oleh ibunya tergantung dengan jenis pekerjaannya. Sering dibayar dengan uang, tapi terkadang juga dibayar dengan mendapatkan bahan makanan.
Suatu hari, ibunya mendapatkan pekerjaan dengan membantu orang yang sedang panen waluh atau labu. Sebagai upah, ibu dari pemilik akun tersebut diberikan dua waluh.
ADVERTISEMENT
Ketika dikasih, waluh tersebut masih berwarna hijau sehingga dibiarkan hingga matang dan berubah warna menjadi oranye.
“Alhamdulillah punya waluh. Bisa untuk nyumbang takjil orang tadarus. Sedih, ndak pernah kasih apa-apa untuk orang ngaji," twitnya mengenang perkataan ibunya.
Waluh akhirnya disimpan selama sekitar dua bulan. Ketika telah berubah warna menjadi oranye, makanan tersebut hanya dikukus. Ia mengatakan ingin diolah menjadi kolak tapi enggak memiliki uang untuk beli kelapa dan gula.
"Pas hari itu waluh kukus makku ditaruh, makku pesan gini, 'Wadahnya nanti dibawa pulang ya, enteng kok gak ada isinya'. Makku senang, bangga, percaya diri waluhnya bakal habis dimakan anak-anak," tulisnya.
Viral Kisah Pilu Warganet dan Kenangannya dengan Waluh Kukus (25697)
searchPerbesar
Labu kuning untuk MPASI Bayi Foto: Shutter stock
Namun, kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Makanan yang ia bawa hanya dimakan oleh satu dua orang anak. Padahal yang dibawa seember penuh. Jumlah anak yang ikut tadarus ada sekitar belasan orang.
ADVERTISEMENT
Lalu, ada satu anak bernama Yati yang hanya menyentuh makanan tersebut menggunakan ujung jarinya seperti merasa jijik.
"'Ih, makanan apaan nih? Masa bentuknya kayak kotoran gini dikasih ke orang?'. Aku piye dengar org bilang gitu? Marah lah! Jadi kubentak mbak Yati, 'Kalo gak suka ya gak usah dimakan!'," cuitnya.
Tapi Yati justru menghasut anak-anak lain untuk mengejek dirinya pemarah dan menertawakan dirinya ramai-ramai.
Akhirnya labu yang telah dimasak masih tersisa banyak.
Tak tega membawa pulang labu yang masih utuh, warganet ini memutuskan buat memakan waluh kukusnya sendirian di samping langgar. Ia makan sebanyak-banyaknya hingga perutnya penuh seperti akan meledak.
Namun saat di jalan pulang, dia terjatuh dan labunya berceceran di jalan sehingga kotor.
ADVERTISEMENT
Sambil menangis karena terjatuh, dia juga memuntahkan semua waluh kukus yang dipaksakan masuk ke dalam perutnya.
Sesampainya di rumah, ibunya tampak semringah karena ember yang kosong.
Sejak kejadian tersebut, ia mengaku dirinya sudah enggak pernah memakan waluh kukus lagi.

Warganet ikut tersentuh dengan kisahnya

Banyak warganet yang menyemangati dan takjub dengan cerita tersebut. Enggak sedikit juga yang ikut berbagi cerita serupa yang pernah dialaminya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020