Konten dari Pengguna

Viral Puisi Karya Mahasiswi Makassar yang Dibunuh Kekasih Karena Hamil

Berita Heboh

Berita Heboh

Membicarakan apa saja yang sedang ramai.

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Heboh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Asmaul Husna (21), mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, yang tewas dibunuh kekasihnya sendiri setelah meminta pertanggungjawaban atas kehamilan yang sudah menginjak 4 bulan dikenal sebagai sosok yang suka menulis. Semasa hidupnya ia dikenal suka menulis puisi dan sajak tentang apa saja yang terlintas di benaknya.

Sesaat sebelum cekcok dengan kekasih dan berujung kematian, almarhumah juga membuat puisi. Isinya cukup menyayat hati hingga akhirnya viral di jagad maya.

Puisi itu cukup panjang. Berisikan kisah seorang anak yang teringat ibunya setelah melakukan kesalahan.

Kalimat bernada penyesalan tersirat dalam setiap makna kata yang terangkai. Mengundang pilu para pembacanya.

Berikut puisi buatan Asmaul Husna yang berjudul "Anak Ibu".

Anak ibu sedang menahan tangis;

Katanya karma sedang berjalan menuju ke arahnya, katanya karma akan segera menjemputnya.

Anak ibu lalu menangis;

Tangisannya pelan tak terdengar dibalik pintu toilet karena sedang menggigit bibir bawahnya agar suaranya tangisannya tak pecah hingga akan muncul desas desus tanya para penggibah.

Tangisnya tak terdengar karena disamarkan oleh suara air yang keluar dengan patuhnya dari mulut bapak keran di toilet.

Anak ibu lalu diam;

Pikirannya penuh dengan kesalahan dan cara menempuh penebusan.

Haruskah anak ibu meninggalkan dunia dengan cara paling tragis atau hidup di dunia dengan cara paling tragis pula.

Anak ibu kemudian tertidur;

Terpejam dengan mata sembab, tubuh dingin dipeluk angin malam tak ada yang peduli.

Sebab ibu jauh di sana dan tak tahu apa-apa tentang anaknya ini.

Selain tersirat penyesalan, almarhumah juga menuliskan jahatnya gosip para tetangga yang tampaknya menjadi hal yang ia takutkan. Membuatnya tak cukup berani untuk mengungkapkan beban yang dideranya selama empat bulan ke belakang, termasuk kepada orang tua sendiri.

Asmaul Husna juga menuliskan kalimat yang berisi keputusasaan. Tentang haruskah meninggalkan dunia atau tetap bertahan dengan rasa tersiksa akibat kelakuan yang telah diperbuat.

(NS)