Konten dari Pengguna

4 Puisi Karya Sastrawan Indonesia Tentang Perjuangan

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Karya Sastrawan Indonesia Tentang Perjuangan, Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Karya Sastrawan Indonesia Tentang Perjuangan, Foto: Unsplash.

Puisi menjadi salah satu syair indah yang berisi mengenai isi hati penulisnya. Puisi adalah jenis sastra lama yang memiliki irama, rima, dan sajak yang indah. Banyak satrawan yang membuat puisi dengan berbagai tema sesuai dengan yang mereka inginkan. Bahasa yang digunakan biasanya berupa majas. Ada yang menggunakan majas puisi karya sastrawan Indonesia?

Dalam membuat puisi ada ciri-ciri yang harus terpenuhi. Seperti layaknya dalam menulis suatu pantun. Namun ciri-cirinya berbeda. Apa saja ciri-ciri dalam membuat puisi? Dikutip dari buku Bahasa Indonesia 3 karya Sri Sutarni (2008: 126), inilah ciri-ciri puisi:

  • Tersusun atas kumpulan kata dalam bentuk baris.

  • Tiap baris tersebut terkumpul menjadi beberapa bagian.

  • Pada tiap baris terakhir berbunyi kata vokal, namun terkadang berupa huruf konsonan.

  • Baris terakhir bunyi vokalnya merupakan kata teratur.

  • Banyak menggunakan majas yang bermakna kiasan.

Puisi Karya Sastrawan Indonesia

Puisi Karya Sastrawan Indonesia Tentang Perjuangan, Foto: Unsplash.

Dikutip dari buku Puisi Kemerdekaan: Antologi Puisi karya 17 Guru Indonesia (2019: 1), Inilah puisi karya sastrawan Indonesia tentang perjuangan yang perlu kamu ketahui:

1. Diponegoro

(Chairil Anwar)

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang

2. DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

(Ws Rendra)

Tuhanku,

WajahMu membayang di kota terbakar

dan firmanMu terguris di atas ribuan

kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa

Tanah sepi kehilangan lelakinya

Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini

tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti

sempurnalah sudah warna dosa

dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,

perkenankan aku membunuh

perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku

adalah satu warna

Dosa dan nafasku

adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan

kecuali menyadari

-biarpun bersama penyesalan-

  1. Karawang Bekasi

(Chairil Anwar)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

  1. Gugur

(W.S. Rendra)

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Tiada kuasa lagi menegak

Telah ia lepaskan dengan gemilang

pelor terakhir dari bedilnya

Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Ia sudah tua

luka-luka di badannya

Bagai harimau tua

susah payah maut menjeratnya

Matanya bagai saga

menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu

lima pemuda mengangkatnya

di antaranya anaknya

Ia menolak

dan tetap merangkak

menuju kota kesayangannya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Belum lagi selusin tindak

maut pun menghadangnya

Ketika anaknya memegang tangannya,

ia berkata:

”Yang berasal dari tanah

kembali rebah pada tanah.

Dan aku pun berasal dari tanah

tanah Ambarawa yang kucinta

Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

Hari pun berangkat malam

Bumi berpeluh dan terbakar

Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata:

“Lihatlah, hari telah fajar!

Wahai bumi yang indah,

kita akan berpelukan buat selama-lamanya!

Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menancapkan bajak

di bumi tempatku berkubur

kemudian akan ditanamnya benih

dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata:

“Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam

ketika menutup matanya

Demikianlah puisi karya sastrawan Indonesia tentang perjuangan. Puisi dijadikan sebagai bahan untuk mengungkapkan perasaan sang penyair. Dengan menggunakan puisi sang penyair dapat mengungkapkan segala keluh kesah dan ide-idenya.(Umi)