5 Alasan Kita Tidak Boleh Terlalu Mencintai Dunia dan Melalaikan Akhirat

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa kita tidak boleh terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhirat? Sebagian siswa kelas 10 belum berhasil menjawab soal Pendidikan Agama Islam (PAI) ini dengan benar.
Sifat mencintai dunia sering disebut dengan istilah dari bahasa Arab, yaitu hubbud-dunya. Hubbud-dunya adalah cinta dunia yang membuat manusia lupa pada Allah Swt.
Mengapa Kita Tidak Boleh Terlalu Mencintai Dunia dan Melalaikan Akhirat? Ini 5 Alasannya dalam Islam
Umat Islam diperintahkan untuk menyeimbangkan kecintaannya pada dunia dan akhirat. Diambil dari buku 160 Materi Dakwah Pilihan, Ahmad Yani (2008:100), lima alasan mengapa kita tidak boleh terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhirat adalah sebagai berikut.
1. Sibuk Dunia, Lupa Akhirat
Kesibukan dunia sering kali membuat manusia tidak menyadari bahwa dia akan mati, sehingga tidak ada persiapan untuk menjalani kehidupan di akhirat. Allah berfirman:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)" (at-Takaatsur: 1-3).
2. Menghalalkan Segala Cara
Terlalu cinta pada dunia menyebabkan manusia ingin meraih kekayaan yang banyak, meskipun harus dengan menghalalkan segala cara. Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui" (al-Baqarah: 188).
3. Lupa kepada Allah
Lupa kepada Allah Swt. yang membuat manusia lengah terhadap apa yang diamanahkan-Nya. Hal ini juga menunjukkan terlalu cintanya manusia terhadap dunia. Oleh karena itu, diingatkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi" (al-Munaafiqun: 9).
4. Kikir
Terlalu cinta dunia sangat identik dengan cinta kepada harta, sehingga bila seseorang cinta dunia, maka harta yang telah dimiliki membuat dia menjadi bakhil atau kikir. Allah swt. berfirman:
"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka.
Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Milik Allahlah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (Ali Imran: 180).
5. Berubah Pendirian
Untuk meraih kenikmatan dunia, orang-orang yang terserang penyakit terlalu cinta kepada dunia tidak segan-segan mengubah pendiriannya yang benar dengan kebatilan. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus)" (an-Nisaa: 137).
Baca juga: Pengertian Zuhud dan Ciri-cirinya dalam Islam
Mengapa kita tidak boleh terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhirat? Alasannya karena mencintai dunia membuat manusia lalai dalam mempersiapkan kehidupan akhirat. (DK)
