9 Ciri Orang yang Hatinya Mati dalam Agama Islam yang Perlu Diketahui

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ciri orang yang hatinya mati dalam agama Islam penting untuk diketahui secara umum bagi umat muslim. Seseorang umat muslim dapat disebut memiliki hati yang mati karena tidak memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai agama.
Seseorang yang memiliki hati mati dapat diketahui dari beberapa ciri, salah satunya adalah tidak pernah beribadah. Selain itu, ada beberapa ciri lainnya yang dapat diidentifikasi dari kehidupan sehari-harinya.
Ciri Orang yang Hatinya Mati dalam Agama Islam dan Penyebabnya
Dalam Islam, umat muslim diperintahkan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan. Hal ini membuat umat muslim berhati-hati dalam bertindak dan memiliki hati yang hidup. Seseorang umat muslim dapat disebut memiliki hati yang mati dengan ciri dan tanda tertentu.
Mengutip dari dalam buku berjudul Tak Kenal, Maka Tak Dakwah, Mahestha Rastha Andaara (2019: 146), hati yang sudah membatu dan mengeras, hati yang selalu menjauh dari kebaikan, hati yang selalu menolak hal yang benar dan banyak melakukan hal dosa akan membuat hatinya menjadi mati. Ada beberapa ciri orang yang hatinya mati, antara lain sebagai berikut:
Tidak pernah ibadah dan tidak mau mengerjakan kewajibannya sebagai umat Islam.
Tidak pernah baca Al-Quran.
Menolak ketika diajak berbuat kebaikan.
Tidak suka berkumpul dengan orang alim.
Terlalu banyak tertawa dan bercanda dengan berbohong.
Terlalu banyak melakukan kegiatan berdosa dan maksiat.
Tidak merasa menyesal setelah melakukan perbuatan dosa.
Sibuk membahas kejelekan orang lain.
Suka menyimpan dendam kepada orang lain.
Agar tidak menjadi umat muslim yang memiliki hati mati, maka perlu memerhatikan beberapa hal. Contohnya adalah menghindari perbuatan dosa dan maksiat. Hal ini karena perbuatan dosa dan maksiat dapat membuat hati menjadi mati. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah dalil yang berbunyi:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244)
Baca juga: Kaitan Iman dengan Islam dalam Kehidupan Sehari-hari dan Dalilnya
Sekian pembahasan mengenai ciri orang yang hatinya mati dalam agama Islam. Dengan mengetahui cirinya, umat muslim dapat berhati-hati agar hatinya tidak mati dan sulit menerima nasihat. (DAP)
