Aksara Sunda A sampai Z beserta Jenis-jenisnya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksara Sunda A sampai Z adalah huruf yang menarik untuk dipelajari. Meskipun tergolong sebagai aksara kuno, tetapi aksara Sunda masih digunakan oleh masyarakat di hingga kini, terutama di Tanah Sunda.
Aksara Sunda mulai digunakan masyarakat Sunda sejak abad ke-14 sampai ke-18 masehi. Seiring berjalannya waktu, aksara ini mulai ditinggalkan sejak 3 abad yang lalu. Sebagai generasi pecinta budaya, penting sekali memahami ragam aksara tersebut.
Mengenal Aksara Sunda A sampai Z
Dalam rangka menghidupkan kembali aksara Sunda A sampai Z, Pemda Jawa Barat menerbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.
Mrngutip buku Geliat Bahasa Selaras Zaman, Mikihiro & Manneke (2010), pemasyarakatan aksara Sunda mencakup empat tahapan, yakni tahap pawanohan (pengenalan kembali), palomaan (pembiasaan), pangagulan (lambang kebanggaan), dan pamibandaan (rasa memiliki).
Sementara itu, aksara Sunda terdiri dari Aksara Swara, Aksara Ngalagena, dan Rarangkén. Adapun penjelasannya, yakni sebagai berikut.
1. Aksara Swara
Komponen terdiri dari tujuh huruf vokal. Aksara ini berbeda dengan huruf latin karena terdapat é dan eu selain huruf a, i, u, e, dan o.
2. Aksara Ngalagena
Aksara Ngalagena disebut juga dengan komponen inti dari aksara Sunda. Selain huruf vokal yang berdiri sendiri, aksara Ngalagena adalah dasar dari berdirinya suatu kata dan kalimat. Aksara Ngalagena terdiri dari ka, ga, nga, ca, ja, nya, ta, da, na, pa, ba, ma, ya, ra, la, wa, sa, ha, fa, va, qa, xa, za, kha, dan sya.
3. Rarangkén
Rarangkén adalah pelengkap dari komponen aksara Ngalagena. Hal ini karena seluruh huruf dalam Aksara Ngalagena hanya diikuti dengan huruf vokal a. Sementara itu, ada beragam rangkaian kata dan kalimat yang diikuti huruf vokal lainnya.
Jika dilihat dari letak penulisannya, rarangkén dibagi menjadi tiga, yaknni rarangkén di atas huruf, di bawah huruf, dan sejajar huruf.
a. Rarangkén di Atas Huruf
Panyecek: menambah 'ng' di akhir suku kata (ka menjadi kang)
Panghulu: mengubah a menjadi i (ka menjadi ki)
Paneuleung: mengubah a menjadi eu (ka menjadi keu)
Pamepet: mengubah a menjadi e (ka menjadi ke)
Panglayar: menambah 'r' di akhir suku kata (ka menjadi kar)
b. Rarangkén di Bawah Huruf
Panyakra: menambah 'r' di tengah suku kata (ka menjadi kra)
Panyuku: mengubah a menjadi u (ka menjadi ku)
Panyiku: menambah 'l' di tengah suku kata (ka menjadi kla)
c. Rarangkén Sejajar Huruf
Panolong: mengubah a menjadi o (ka menjadi ko)
Panéléng: mengubah a menjadi é (ka menjadi ké)
Pamingkal: menambah 'y' di tengah suku kata (ka menjadi kya)
Patén atau Pamaéh: Memutus huruf 'a' dalam suku kata (ka menjadi k)
Pangwisad: menambah 'h' di akhir suku kata (ka menjadi kah)
Baca juga: Mengenal Fungsi Aksara Jawa Hanacaraka Pasangan
Aksara Sunda A sampai Z yang disebutkan di atas bisa dijadikan referensi untuk meningkatkan wawasan kedaerahan. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih familier dengan huruf dan bahasa tersebut. (DLA)
