Apa itu Quiet Quitting dan Mengapa itu Terjadi?

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini istilah quiet quitting mulai banyak dibicarakan dalam dunia kerja. Hal ini dikarenakan banyak pekerjaan yang diberikan kepada pekerja yang seharusnya bukan menjadi tugasnya. Oleh karena itu, muncul pertanyaan apa itu quiet quitting dan mengapa dapat terjadi?
Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, melainkan menegaskan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga tanpa harus merasa terbebani oleh tuntutan kerja yang berlebihan.
Apa itu Quiet Quitting? Ini Penjelasan dan Alasan Terjadinya
Apa itu quiet quitting? Mengutip dari buku Best Practices Pengelolaan SDM Indonesia Era Society 5.0, Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), (2023), quiet quitting adalah tindakan yang dipilih oleh karyawan dalam suatu perusahaan untuk menunjukkan kinerja sesuai persyaratan minimum saja.
Hal tersebut dilakukan agar tidak mengahabiskan lebih banyak tenaga, pikiran dan waktu dalam bekerja. Quiet quitting muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang menuntut karyawan untuk selalu aktif dan bekerja melebihi kapasitasnya.
Dalam budaya tersebut, karyawan diharapkan untuk selalu menunjukkan kesungguhan dengan lembur, mengikuti berbagai acara kantor, atau terus mengejar karier tanpa batas waktu. Namun, kenyataannya pola kerja seperti ini dapat menyebabkan kelelahan, stres, bahkan burnout.
Oleh karena itu, quiet quitting dianggap sebagai cara agar pekerja dapat tetap produktif tanpa mengorbankan waktu dan energi untuk kehidupan pribadi. Quiet quitting ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti ketidakseimbangan antara beban kerja dan imbalan.
Banyak karyawan merasa upah, pengakuan, atau peluang pengembangan karier yang didapatkan tidak sebanding dengan usaha dan waktu yang dicurahkan.
Selain itu, lingkungan kerja yang kurang mendukung, seperti komunikasi yang buruk antara manajemen dan staf, kurangnya dukungan emosional, atau budaya perusahaan yang menuntut kerja berlebihan, juga menjadi penyebab utama.
Generasi milenial dan Gen Z yang kini mendominasi tenaga kerja juga lebih mengutamakan kualitas hidup dan kepuasan pribadi daripada sekadar pencapaian profesional.
Baca juga: Jenis-Jenis Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang Ada di Indonesia
Itulah sedikit penjelasan mengenai apa itu quiet quitting dan mengapa dapat terjadi. Sikap ini mengingatkan bahwa produktivitas yang baik bukan hanya soal bekerja tanpa henti, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan agar karyawan dapat bertahan. (RIZ)
