Arti Alhamdulillah Ala Kulli Haal saat Melihat Hal yang Tidak Disukai

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyaknya pemeluk Islam di Indonesia, menjadikan penggunaan kata atau kalimat dalam bahasa Arab sering digunakan. Salah satunya adalah allhamudlillah ala kulli haal. Walaupun sering didengar atau dibaca, namun masih banyak yang belum mengetahui arti dari ucapan tersebut. Lantas apa arti alhamdulillah ala kulli haal saat melihat hal yang tidak disukai?
Arti Alhamdulillah Ala Kulli Haal
Saat mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, umat Muslim biasa mengucapkan alhamdulillah. Namun berbeda dengan alhamdulillah ala kulli haal. Dalam bahasa Arab, alhamdulillah ala kulli haal memiliki arti “segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”
Kalimat ini diucapkan ketika melihat sesuatu hal yang tidak disukai, semisal melihat masalah maupun bencana.
Baca Juga: Arti Alhamdulillah dan Manfaat Mengucapkannya Sehari-hari
Keadaan Manusia Saat Melihat Hal yang Tidak Disuka
Saat melihat hal yang tidak disukai, manusia menampilkan berbagai macam ekspresi. Dikutip dari buku Makna Sabar Dalam Kehidupan karya Samsudin (2019), Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ketika orang menghadapi hal yang tidak disukai terbagi menjadi empat tingkatan:
Tingkatan Pertama
Keadaan pertama adalah murka atau marah, yakni seseorang menampakkan rasa marah baik secara lisan, hati, maupun anggota badannya. Seseorang yang murka pada Allah dalam hatinya yaitu dia merasa benci (murka) pada Allah dan dia merasa bahwa Allah telah menzaliminya dengan ditimpakan suatu musibah.
Tingkatan Kedua
Kemarahan namun dengan tetap bersabar dan menahan diri terhadap hal yang tidak disukai. Orang yang mengalai tingkatan yang satu ini merasa benci dengan musibah dan juga tidak menyukai kejadian seperti itu terjadi, tetapi dia menahan diri dengan tidak berucap dengan lisannya yang bisa membuat Allah murka padanya, dia juga tidak marah sehingga menampakkan rasa marah melalui anggota badannya, dan juga juga tidak murka dalam hatinya.
Tingkatan Ketiga
Mengikhlaskan atas hal yang tidak disukai, yakni orang yang merasa lapang dada dengan musibah yang menimpa, dia betul-betul ridha dan seakan-akan dia tidak mendapatkan musibah. Dalam agama Islam, kejadian yang satu ini adalah mustahab (dianjurkan)
Tingkat Keempat
Bersyukur kepada Allah atas hal yang tidak disukai. Tingkat ini menjadi tingkat tertinggi dalam menghadapi permasalahan. Kejadian inilah yang dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana dalam sebuah hadist dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat
Artinya, “Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.”
Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
alhamdulillah ala kulli haal
Artinya, “Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan.” (HR. Ibnu Majah)
Ternyata makna dalam kalimat alhamdulillah ala kulli haal sangatlah mendalam dan memiliki kedudukan sangat tinggi. (MZM)
