Bacaan Lafadz Adzan dan Cara Menjawabnya dengan Benar

Penulis kumparan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bacaan lafaz azan adalah panggilan yang dikumandangkan untuk menandai waktu salat telah tiba. Panggilan ini sekaligus berfungsi sebagai seruan kepada umat Islam secara khusus agar menyegerakan salat.
Seseorang yang mengumandangkan azan disebut sebagai muazin. Saat azan berkumandang, tiap Muslim disunahkan untuk berhenti sejenak dari segala kegiatan untuk menyimak dan menjawabnya.
Namun, hukum menjawab azan mengundang berbagai perbedaan pendapat di antara para ulama. Untuk memahami penjelasan lebih lengkap mengenai bacaan lafaz azan dan cara menjawabnya dengan benar, kamu dapat menyimak artikel yang ada di bawah ini.
Bacaan Lafadz Adzan
Secara umum, dalam azan terdapat tujuh lafal yang harus diserukan. Dalam buku berjudul Hafalan Bacaan Shalat karya Abizar Ramdani, berikut ini bacaan lafaz azan yang harus diingat sebagai seorang muslim:
اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar. (2x)
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar (2x)
أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah (2x)
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
Artinya: Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah (2x)
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Hayya 'alashshalaah (2x)
Artinya: Mari mengerjakan Salat
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Hayya 'alalfalaah. (2x)
Artinya: Mari menuju kemenangan (2x)
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar (2x)
لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ
Laa ilaaha illallaah (1x)
Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah.
Bacaan di atas adalah lafaz azan yang dikumandangkan untuk salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Adapun lafaz azan khusus salat Subuh ialah Hayya 'alalfalaah dan Allaahu Akbar Allaahu Akbar ditambah dengan bacaan berikut:
اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Ash-shalaatu khairum minan-nauum. (2x)
Artinya: Sesungguhnya salat itu lebih baik daripada tidur (2x)
Bagaimana Cara Menjawab Adzan?
Mengutip dari buku Hafalan Bacaan Shalat oleh Abizar Ramdani, cara menjawab azan dapat dilakukan dengan menirukan lafaz yang diucapkan muazin segera setelah ia selesai mengumandangkan azan mulai dari kalimat berikut:
اللّهُ أَکْبَرُ، اللّهُ أَکْبَرُ
Allahu akbar, Allahu akbar
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلّا اللّهُ
Asyhadu alla illaaha illallaah
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلّا اللّهُ
Asyhadu alla illaaha illallaah
أَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللّهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasulullah
Tiap-tiap bacaan diucapkan sebanyak dua kali.
Berbeda halnya pada lafaz Hayya 'alashshalaah dan Hayya 'alalfalaah, berikut ini cara menjawabnya:
حَیَّ عَلَی الصَّلاةِ
Hayya ‘alashshalaah
حَیَّ عَلی الفَلٰاحِ,
Hayya ‘alalfalaah
ucapkanlah:
"لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ"
“Lâ haula walâ quwwata illâ billâhi.”
Artinya: Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah) ucapkan bacaan ini setelah tiap-tiap bacaan itu.
Sementara itu, pada azan Subuh muazin menambahkan kedua bacaan poin kedua dengan bacaan:
اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Ash-shalatu khairun minan naum
Artinya: Salat lebih baik dari pada tidur.
Saat mendengarnya, seorang muslim dapat mengucapkan bacaan di bawah ini:
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ
Shadaqta wa bararta
Artinya: Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan
Selain itu, seorang muslim juga dapat menirukan secara persis bacaan yang diucapkan muazin setelah ia selesai mengumandangkan lafaz terakhir sebagai penutup azan:
اللّهُ أَکْبَرُ، اللّهُ أَکْبَرُ
Allahu akbar, Allahu akbar
لا إِلٰهَ إلّا اللّهُ
Laa Ilaaha illallaah
Setelah azan selesai dikumandangkan, bacalah selawat ke Rasulullah SAW, yang bunyinya sebagai berikut:
اللهم صل على سيدنا محمد
“Allahumma shalli ‘ala sayyidana Muhammad.”
Artinya: Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Muhammad.
Apakah Menjawab Adzan itu Wajib?
Menjawab azan termasuk suatu amalan istimewa yang mudah dan ringan untuk dilakukan setiap muslim. Amalan ini bertujuan untuk memperoleh syafaat Rasulullah SAW.
Ini dijelaskan dalam sebuah hadis yang dikutip dari buku Diabaikan Allah Dibenci Rasulullah oleh Rizem Aizid.
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu sekalian mendengar muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bacalah selawat kepadaku. Barang siapa membaca selawat untukku satu kali, maka Allah membalasnya dengan 10 slawat. Lalu mintakanlah kepada Allah wasilah untukku. Barang siapa memintakan wasilah untukku maka ia mendapat syafaatku.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad).
Adapun hukum menjawab azan memiliki berbagai perbedaan pendapat dari para ulama. Berikut ini penjelasannya:
1. Sunah
Dikutip dari buku Taudihul Adillah 4 oleh H Muhammad Syafi`i Hadzami, hukum menjawab azan dan ikamah adalah sunah. Pendapat ini disampaikan oleh golongan ulama Mazhab Syafi’i.
Dalil yang digunakan untuk memperkuat pendapat di atas adalah:
Hadis riwayat Abu Dawud yang menyatakan, “Sesunggguhnya Rasulullah SAW, jika mendengar muazin membaca syahadat, Beliau berkata, “dan aku dan aku.”
2. Wajib
Dikutip dari buku Diabaikan Allah Dibenci Rasulullah, ulama yang mewajibkan menjawab azan adalah ulama dari Mazhab Zhahiriah dan Ibnu Wahb. Mereka menggunakan dalil hadis dari Abu Sai’id al Khudri sebagai landasan hukum pendapat tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, jawablah seperti yang disampaikan muazin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan Menjawab Adzan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa menjawab azan merupakan amalan baik yang dapat dilakukan oleh setiap muslim. Terdapat beberapa keutamaan menjawab azan bagi seorang muslim yang mengamalkannya. Berikut ini beberapa keutamaan menjawab azan:
1. Masuk surga
Dikutip dari buku Diabaikan Allah Dibenci Rasulullah, menjawab azan akan memudahkan seseorang menjadi penghuni surga.
Adapun dalil dari keutamaan di atas ialah :
Hadis yang diriwayatkan Umar bin Khatab ra, Rasulullah bersabda: “Siapa yang menjawab azan dari dalam hatinya maka akan masuk surga.” (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya).
2. Dihapuskan dosa
Menjawab azan juga dapat menghapus segala dosa seorang muslim. Sebuah hadis yang menerangkan tentang keutamaan tersebut ialah dari Sa’d bin Abi Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa ketika mendengar azan dia mengucapkan, “Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku rida Allah sebagai Rabku, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku.” Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni." (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya).
3. Dikabulkannya doa
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita: Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, para muazin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.” Kemudian Rasulullah bersabda: Ucapkan seperti yang diucapkan muazin, jika kamu telah selesai, berdoalah, kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Kapan Pertama Kali Adzan Dikumandangkan?
Mengutip dari jurnal Persepsi Masyarakat terhadap Gema Adzan dalam Syiar Islam oleh Sifah Muthoharoh, pada mulanya Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah mengenai cara memberitahu masuknya waktu salat dan mengajak umat Islam berkumpul di masjid.
Dalam musyawarah itu ada beberapa usulan, ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan pemeluk agama yahudi. Lalu ada yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang dilakukan oleh kaum nasrani.
Hingga suatu hari, seorang sahabat Rasulullah Saw Ja‟far Bin Zaid bermimpi ada seorang malaikat mengajarinya azan. Kemudian, mimpi tersebut diberitahukan ke Rasulullah, beliau bersabda mimpinya itu sesuai dengan wahyu.
Seelah itu, Rasulullah SAW meminta kepada Abdullah untuk mengajari Bilal bin Rabah cara melafalkan serangkaian kalimat azan. Rasulullah memerintahkan agar bilal bangkit dan mengumandangkan adzan.
Azan pertama kali pun dikumandangkan pada tahun pertama Hijriah di Kota Madinah oleh Bilal bin Rabah.
(RA dan FNS)
