Bacaan Niat Puasa Mutih dan Tata Caranya dalam Tradisi Masyarakat Jawa

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa mutih adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa kuno atau yang biasa disebut dengan tirakat kejawen. Seseorang yang melakukan puasa mutih maka tidak boleh mengkonsumsi makanan dan minuman selain yang berwarna putih. Biasanya puasa ini dilakukan dengan tujuan tertentu, seperti untuk pengasihan, jodoh, dan lain sebagainya. Bacaan niat puasa mutih juga berbeda dari niat puasa pada umumnya dalam ajaran agama Islam.
Bacaan Niat Puasa Mutih
Sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa kuno, bacaan niat puasa mutih tentu disesuaikan dengan bahasa Jawa dan bukan menggunakan bahasa Arab. Selain itu, waktu membaca niat puasa ini adalah setelah melaksanakan sholat isya dan sebelum fajar. Adapun bacaan niat puasa mutih adalah sebagai berikut.
Niat ingsun puasa mutih supaya putih bathinku, putih badanku, putih kaya dining banyu suci karena Allah Ta’ala.
Tata Cara Puasa Mutih dalam Tradisi Masyarakat Kuno
Berikut adalah tata cara puasa mutih dalam tradisi masyarakat kuno dikutip dari buku Menyatu Diri dengan Ilahi karya K.H. Muhammad Sholikhin (2010:272).
Membaca niat seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Melakukan sahur jika memungkinkan. Apabila terpaksa tidak bisa bangun, maka diperbolehkan untuk tidak melakukan sahur selagi sebelumnya sudah membaca niat puasa sebelum tidur.
Setelah imsak dan adzan subuh berkumandang, maka Anda sudah mulai berpuasa dan berakhir saat adzan maghrib.
Selama siang hari, Anda hanya diperbolehkan makan dan minum hanya dengan yang berwarna putih.
Berbuka puasa dengan makan camilan ringan dan air hangat, seperti teh supaya perut tidak kontraksi.
Waktu Puasa Mutih
Puasa mutih dilaksanakan lebih lama dari 24 jam. Biasanya dilaksanakan selama dua atau tiga hari dan seterusnya. Waktu pelaksanaan puasa mutih tergantung dari kehendak guru masing-masing. Jadi, kita hanya perlu menuruti dan melaksanakannya. Dengan kata lain, jika Anda ingin melakukan puasa mutih, maka terlebih dahulu harus mendiskusikannya dengan guru Anda.
Demikian penjelasan tentang bacaan niat puasa mutih yang hingga saat ini masih kerap dilakukan oleh masyarakat Jawa yang memegang teguh tradisi Jawa kuno. (Anne)
