Bacaan Niat Puasa Ramadan beserta Tata Cara Melaksanakannya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bacaan niat puasa Ramadan perlu diamalkan untuk melaksanakan ibadah wajib tersebut. Tanpa adanya niat, ibadah yang dilakukan menjadi kurang afdhol.
Bahkan, niat juga menjadi penentu pahala dari perbuatan atau amalan yang dilakukan. Selain membaca niat, setiap muslim juga perlu mengetahui tata cara berpuasa yang benar di bulan Ramadan.
Dalil tentang Niat Puasa Ramadan
Mengutip buku Fikih Empat Mazhab Jilid 2 oleh Syaikh Abdurrahman A; Juzairi (2015), bacaan niat puasa Ramadan merupakan salah satu bagian dari rukun berpuasa. Jadi, saat tidak dikerjakan, maka ibadah tersebut tidak akan sah di hadapan Allah.
Hal ini juga berlaku pada ibadah puasa Ramadan yang membutuhkan niat. Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa harus dikerjakan pada malam Ramadhan setiap harinya. Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’ berkata:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
“Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits.” (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, juz 2)
Sementara itu, Mazhab Maliki berpendapat bahwa niat puasa cukup dilakukan sekali untuk sebulan penuh, yakni pada malam pertama Ramadan. Oleh karena itu, niat tersebut tidak perlu diperbarui lagi setiap harinya. Alasannya yaitu karena puasa Ramadan merupakan satu kesatuan ibadah. (Yusuf Al-Qaradlawi, Fiqh al-Shiyam, hal. 84)
Bacaan Niat Puasa Ramadan
Ada dua bacaan niat puasa Ramadan yang bisa diamalkan sesuai keyakinan Mazhab yang dimiliki. Adapun bacaan niat tersebut yakni sebagai berikut:
1. Niat Puasa Mazhab Syafi'i
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”
2. Niat Puasa Mazhab Maliki
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.” (Shafira Amalia, ed: Nashih)
Tata Cara Puasa Ramadan
Tata cara puasa harus dilakukan dengan tertib. Adapun panduan yang bisa dilakukan yakni sebagai berikut:
Melafalkan Niat: Niat perlu dibaca di malam hari atau sebelum makan sahur.
Makan Sahur: Makan sahur utamanya dilakukan menjelang masuk waktu subuh atau sebelum imsak.
Menahan Diri: Setelah subuh, artinya orang yang berpuasa harus menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan, baik makan, minum, jinak dan lainnya.
Segera Berbuka Puasa: Saat sudah tiba waktunya, maka segera berbuka tepat waktu dan jangan ditunda.
Baca juga: Hukum Menangis saat Puasa Ramadan
Bacaan niat puasa Ramadan beserta tata caranya yang disebutkan di atas bisa menjadi acuan untuk menjalankan ibadah. Dengan begitu, puasa yang dijalankan bisa bernilai sah. (DLA)
