Cara Menghindari Sifat Riya' dan Sum'ah beserta Dalilnya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ajaran Islam memerintahkan umatnya menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan dalam Al-Quran, hadist, hingga ijma ulama. Salah satunya adalah sifat riya’ dan sum’ah. Maka dari itu, umat Islam perlu mengetahui cara menghindari sifat riya’ dan sum’ah.
Sebab, kedua sifat ini dapat menyebabkan penyakit hati. Di sisi lain, riya’ dan sum’ah bukan mendatangkan kebaikan. Akan tetapi, keburukan hingga azab dari Allah Swt.
Pengertian Sifat Riya’ dan Sum’ah beserta Dalilnya
Dikutip dari buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, H. Aminudin dan Harjan Syuhada (2021), riya’ berasal dari bahasa Arab “ra’a-yara-ruyan-wa ru’yatan” yang artinya melihat. Sedangkan menurut istilah, riya’ adalah memperhatikan/menampakkan diri kepada orang lain agar diketahui keberadaannya, baik melalui ucapan, tulisan, sikap maupun amal perbuatan.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian, penghargaan, dan pujian/sanjungan dari orang lain.
Orang yang bersikap riya di sisi Allah Swt. sangat tercela dan akan mendapatkan laknat. Hal ini disebabkan karena dengan riya’-nya melakukan sesuatu bukannya untuk mencari keridhaan Allah Swt.
Akan tetapi riya’ dilakukan untuk mencari pujian dan kemasyuran di masyarakat. Oleh karena itu, sikap riya’ dilarang dan hukumnya haram.
Allah Swt. berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Sedangkan sum’ah berasal dari kata “assum’atu” atau “sum’atun” yang berarti kemasyuran nama. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya berarti ia ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang dilakukan.
Allah Swt. bersabda:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)
Cara Menghindari Sifat Riya’ dan Sum’ah
Sebagai sifat yang buruk, maka umat Islam perlu menghindarinya. Adapun cara untuk menghindari sifat riya’ dan sum’ah di antaranya sebagai berikut.
Meluruskan niat hanya kepada Allah Swt. bukan untuk dipuji orang lain.
Hindari sikap suka memamerkan sesuatu yang dimiliki, karena hakikatnya semuanya hanyalah milik Allah.
Saling menasihati dan mengingatkan jika ada yang berperilaku riya’ dan sum’ah.
Membiasakan diri bersyukur pada Allah.
Melakukan ibadah dengan khusyu’ baik di tempat ramai maupun di tempat sunyi.
Senantiasa berdzikir kepada Allah dan selalu berlindung kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat riya’ dan sum’ah.
Baca Juga: Riya: Perbuatan yang Hanya Ingin Dipuji oleh Orang Lain
Dengan mengetahui beberapa cara menghindari sifat riya’ dan sum’ah membuat ibadah atau pemberian dilakukan secara ikhlas dan semata-mata untuk mendapatkan keridhoan dari Allah Swt. Sehingga, kebijakan dilakukan tidak memperdulikan pujian dari orang lain. (MZM)
