Cerita Rakyat Nusantara Singkat tentang Malin Kundang dari Sumatera Barat

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita rakyat merupakan sebuah cerita dari masyarakat sebuah daerah yang sudah ada sejak zaman dahulu yang diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Di Indonesia sendiri memiliki banyak sekali banyak cerita rakyat, salah satunya adalah cerita rakyat Nusantara tentang Malin Kundang dari Sumatera utara.
Dengan cerita rakyat, orang tua dapat membacakan kepada anak sebelum tidur. Sehingga, anak dapat tumbuh dengan pintar dan dapat mengambil nilai-nilai yang ada di dalam cerita rakyat.
Baca Juga: Contoh Cerita Rakyat Jawa Barat yang Sudah Melegenda
Cerita Rakyat Nusantara Singkat tentang Malin Kundang dari Sumatera Barat
Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat. Malin Kundang sendiri mengisahkan seorang anak yang durhaka dan dikutuk menjadi batu.
Kisah ini sendiri terinspirasi dari sebuah batu karang di Pantai Air Manis, Padang. Batu tersebut berbentuk pecahan kapal dan seseorang yang disebutkan sebagai Malin Kundang, dalam posisi tertelungkup di pesisir. Bongkahan batu menggambarkan akhir hidup tokoh Malin Kundang, saudagar yang saat kedatangannya ke kampung halaman mendapat kutukan karena menolak mengakui ibunya.
Baca juga: Contoh Cerita Rakyat: Kisah Timun Mas Mengalahkan Raksasa yang Ingin Memakannya
Adapun cerita singkat tentang Malin Kundang yang dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara oleh Faulina Rahma (2021).
Malin Kundang
Pada suatu waktu, hidup satu keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera. Sang ayah telah lama pergi meninggalkan ibu dan anak semata wayang mereka, Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas dan pemberani, tetapi sedikit nakal.
Setelah beranjak dewasa, Malin berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Ibunya semula kurang setuju dengan keinginan anaknya. Namun, karena Malin terus mendesak, akhirnya ibu menyetujuinya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, Nak." Pesan Ibu Malin.
Satu minggu kemudian, Malin pergi meninggalkan ibu dan kampung halamannya. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran. Setelah beberapa tahun bekerja keras, Malin menjadi orang kaya yang memiliki banyak kapal dagang.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Hingga pada suatu hari, Malin dan istrinya melakukan pelayaran menuju kampung halamannya. Sang Ibu yang saat itu memang berada di dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal yang besar. Ia yakin kalau mereka adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Wanita tidak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku," kata Malin Kunåqng kepadq ibunya. Majin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu melihat ibunya yang sudah tua dan memakai baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?" Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku," sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan perlakuan semena-mena oleh anak kandungnya sendiri, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu.”
Seketika, langit menjadi gelap. Angin berhembus kencang dan terjadi hujan badai. Tiba-tiba kapal milik Malin terkena petir yang sangat besar hingga pecah berkeping dan karam di lautan. Setelah itu, tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan berubah menjadi batu karang.
Cerita rakyat Malin Kundang di atas bisa Anda bacakan kepada anak sebelum tidur. Selain itu, Anda dapat mengajari anak untuk tidak durhaka agar tidak mendapatkan kesengsaraan yang akan menimpanya suatu saat nanti.(MZM)
Baca juga: Cerita Sangkuriang dalam Bahasa Inggris dengan Terjemahannya
