Contoh Khotbah Ramadhan Menyentuh Hati untuk Meningkatkan Keimanan

Penulis kumparan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat bagi umat Muslim untuk meningkatkan keimanan. Cara umat Islam meningkatkan keimanan sangat beragam. Salah satunya dengan merenungi khotbah Ramadhan menyentuh hati. Bagi Anda yang sedang mencari materi khotbah Ramadan yang menyentuh hati, bisa simak contoh-contohnya dalam artikel ini.
Contoh Khotbah Ramadhan Menyentuh Hati sebagai Renungan
Merenungi materi khotbah Ramadhan merupakan salah satu amalan yang umum dikerjakan umat Muslim untuk meningkatkan keimanan. Khotbah biasanya disampaikan dalam forum umum yang menyajikan materi keagamaan.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku berjudul Dakwah Era Digital: Sejarah, Metode, dan Perkembangan yang disusun oleh M. Tata Taufik (2020:198), khotbah berarti menyampaikan sesuatu secara lisan kepada khalayak banyak, namun jika dilihat dari konteks penyajian, khotbah tergolong komunikasi keagamaan.
Bagi Anda yang ingin meningkatkan keimanan dengan materi khotbah Ramadhan, berikut ini adalah contoh khotbah Ramadhan menyentuh hati yang dikutip dari buku berjudul Ramadan Berpendar Maghfirah 1442 H yang disusun oleh Abdullah Farid et al (2021:21-40).
Salat tarawih merupakan salat sunah yang dikerjakan oleh seorang muslim dan muslimah untuk menghidupkan malam-malam di dalam bulan suci Ramadhan. Salat ini dikerjakan setelah salat Isya, dan sebelum salat witir. Berdasar hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, ibadah ini mempunyai beberapa keutamaan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناًوَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Pada hadis lain disebutkan:
وعنه – رضي الله عنه – ، قَالَ : كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يُرَغِّبُ في قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِأنْ يَأمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ ، فيقولُ : (( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) رواه مسلم
Artinya: “Dari Abi Hurairah ra., Rasulullah membuat orang lain merasa senang untuk menghidupkan bulan Ramadhan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: "Barangsiapa yang melakukan ibadah (salat tarawih) di bulan Ramadhan hanya karena iman dan mengharapkan rida dari Allah, maka baginya diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.” (HR. Muslim)
Para ulama sepakat bahwa redaksi “Qâma Ramadlâna” dalam hadis tersebut mengacu pada makna salat tarawih. Rasulullah SAW mengerjakan salat tarawih tidak selalu di masjid. Kadang Beliau salat di rumah karena khawatir umat Muslim akan menganggap salat tarawih itu wajib, dan hal ini akan memberatkan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:
“Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam salat di Masjid, lalu banyak orang salat mengikuti Beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, ‘Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, "Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar dalam kitab fathul bari tentang hadis tersebut:
“Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya.”
Langkah tersebut menunjukkan betapa bijaksana dan sangat sayangnya Nabi kepada umatnya. Pada hadis di atas dapat ditarik kesimpulan:
1. Nabi melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid hanya dua malam. Beliau tidak hadir melaksanakan salat tarawih bersama-sama di masjid karena khawatir salat tarawih akan diwajibkan kepada umatnya.
2. Salat tarawih hukumnya adalah sunah. Karena, salat tarawih sangat digemari Rasulullah SAW dan Beliau mengajak orang-orang untuk mengerjakannya.
3. Dalam hadis di atas tidak ada penyebutan bilangan rakaat dan ketentuan rakaat salat tarawih secara rinci.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Dari ‘Āisyah, istri Nabi Shalallahu alaihi wasallam, (diriwayatkan bahwa) ia berkata, “Pernah Rasulullah melakukan salat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau salat witir satu rakaat." [H.R Muslim]
Sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab ra. Adalah orang yang pertama kali mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan tarawih secara berjamaah. Jamaah salat tarawih pada waktu itu dilakukan dengan jumlah 20 rakaat. Sebagaimana keterangan: “Dari Yazid bin Ruman telah berkata, ‘Manusia senantiasa melaksanakan shalat pada masa Umar radliyallahu ‘anh di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat tarawih, disambung 3 rakaat witir).” (HR. Malik)
Bukti lain dari keterangan tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Sa’ib bin Yazid: “Dari Sa’ib bin Yazid, ia berkata, ‘Para sahabat melaksanakan solat (tarawih) pada masa Umar ra. di bulan Ramadan sebanyak 20 rakaat.” (HR. Al-Baihaqi, sanadnya dishahihkan oleh Imam Nawawi dan lainnya)
Dari dua dalil tersebut, jelas sudah bahwa 20 rakaat adalah pendapat terkuat soal jumlah rakaat salat tarawih. Apa yang diinisiasi Sayyidina Umar bin Khattab tak hanya disetujui tapi juga dipraktikkan para sahabat Nabi yang lain kala itu, termasuk Sayyidah Aisyah, istri Baginda Nabi.
Hal ini mempertegas ijma’ (konsensus) sahabat karena tiada satu orang pun yang mengingkari atau menentang. Tak heran, para ulama empat mazhab memilih pendapat ini. Inisiatif Sayyidina Umar yang diikuti para sahabat dan ulama setelahnya menjadi sangat wajar bila kita menengok sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati umar.” (HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut menunjukkan kredibilitas Sayyidina Umar yang mendapat “stempel” langsung dari Rasulullah. Mustahil beliau berbuat penyimpangan, apalagi dalam hal ibadah.
Penjelasan yang lain adalah hadis berikut: “Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelah aku meninggal, maka berpegang teguhlah padanya dengan erat.” (Hadits riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi). Semoga kita semuanya dapat meningkatkan seluruh ibadah kita, khususnya pada bulan suci Ramadan ini, dan semoga Allah Subhānahu wa ta’āla selalu menuntun kita untuk menjadi lebih baik.
(Ceramah dari Muhammad Fiky Ardhiansyah)
Demikian materi kohtbah Ramadhan menyentuh hati. Anda dapat mengkaji artikel ini dalam forum keagamaan saat menunggu waktu berbuka puasa. Bisa juga dibaca kembali di waktu senggang untuk meningkatkan keimanan di bulan Ramadhan. Semoga kita dapat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan dengan maksimal untuk meraih keutamaan yang berlimpah. (DAP)
