Contoh Teori Konflik menurut Para Ahli

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari konflik. Konflik yang terjadi bisa konflik dengan diri sendiri atau orang lain. Meskipun tidak terhindarkan, setiap konflik memiliki jalan keluar. Bagaimana contoh teori konflik?
Beberapa ahli mengemukakan teori konflik yang bisa dipelajari. Untuk lebih memahaminya, simak uraian berikut ini.
Baca juga: Tokoh-Tokoh Sosiologi di Dunia dan Teorinya
Contoh Teori Konflik
Waluya dalam buku Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X SMA/MA (2007) menjelaskan berdasarkan teori konflik, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial.
Teori tersebut mengacu pada pemikiran Karl Marx yakni konflik kelas sosial adalah sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial.
Sementara itu, Ralf Dahrendorf mengemukakan bahwa semua perubahan sosial adalah hasil dari konflik kelas pada masyarakat. Dahrendorf yakin bahwa konflik dan pertentangan selalu ada di setiap bagian masyarakat. Ia memiliki pandangan prinsip dasar teori konflik adalah konflik sosial dan perubahan sosial selalu ada dalam struktur masyarakat.
Setelah mengetahui teorinya, berikut ini beberapa contoh teori konflik:
Konflik agama antar warga. Masyarakat Indonesia memeluk agama yang berbeda-beda. Sayangnya hal ini bisa menjadi pemicu konflik. Misalnya saja konflik yang terjadi karena umat beragama satu sedang melakukan perayaan keagamaan sementara itu umat beragama lain merasa terganggu.
Konflik politik antar warga. Pandangan atau pilihan politik warga juga bisa menjadi pemicu konflik. Contohnya adalah ketika melakukan kampanye, para pendukung ada yang melakukan kecurangan agar pilihannya yang menang.
Konflik antar suku. Indonesia terdiri dari beragam suku yang tinggal secara berdampingan. Namun, terkadang ada konflik yang terjadi karena perbedaan ini. Seperti perang antar suku yang terjadi di beberapa daerah.
Faktor yang Memicu Konflik
Konflik yang terjadi bisa dipicu oleh beberapa faktor. Beberapa di antaranya adalah:
Perbedaan kebudayaan. Kebudayaan yang berbeda menyebabkan pola kepribadian dan pola perilaku yang berbeda juga. Selain itu, perbedaan budaya juga akan menimbulkan sikap yang merasa bahwa kebudayaan atau kelompok atau sukunya adalah yang paling baik.
Perbedaan keyakinan dan pendirian. Semua manusia pasti memiliki keyakinan dan pendiriannya masing-masing. Tetapi, hal ini membuat ada individu-individu yang justru memaksakan keyakinan dan pendiriannya serta berusaha melenyapkan keyakinan dan pendirian yang berbeda dengannya.
Itulah contoh teori konflik dan faktor yang memicu konflik yang bisa kalian pelajari. Konflik bisa dihindari, salah satu caranya adalah dengan toleransi. Semoga bermanfaat. (KRIS)
