Konten dari Pengguna

Dalil yang Memerintahkan Manusia untuk Bersikap Tawadhu

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustasi sifat tawadhu. Foto: Unsplash/Imad Alassiry
zoom-in-whitePerbesar
Ilustasi sifat tawadhu. Foto: Unsplash/Imad Alassiry

Setiap Muslim selalu dianjurkan untuk berbuat kebaikan untuk diri sendiri, orang lain, hingga kepada Allah SWT. Salah satu kebaikan yang dianjurkan adalah sifat tawadhu. Bahkan, terdapat dalil yang memerintahkan kita bersikap tawadhu, baik dalam Al-Quran maupun hadits.

Dengan sifat tawadhu, manusia akan terhindar dari sifat sombong dan merasa tinggi dibandingkan orang lain. Selain itu, tawadhu dapat membuat seseorang lebih dihargai orang yang ada di sekitarnya.

Baca Juga: 3 Hikmah Tawadhu atau Sikap Rendah Hati dalam Agama Islam

Dalil yang Memerintahkan Manusia untuk Bersikap Tawadhu

Ilustrasi perintah manusia untuk bersikap tawadhu. Foto: Pexels/Ali Arapoğlu

Dikutip dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 2 oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri (2019: 206), tawadhu secara bahasa merupakan mashdar dari kata tawadha’a yang berarti menunjukkan kerendahan diri. Kata ini diambil dari huruf wawu-dhad-ain yang menunjukkan pada kerendahan sesuatu.

Sedangkan secara terminologi berarti menunjukkan kerendahan martabat kepada orang yang ingin mengagungkannya. Ada yang mengatakan, mengangungkan orang yang di atasnya karena keutamannya." Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah dikatakan, "Tawadhu' berarti menyerahkan diri kepada Haqq, dan meninggalkan penolakan terhadap hukumnya.

Tingkatan Tawadhu

Tingkatan tawadhu terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:

Pertama, tawadhu kepada agama, yaitu tidak menentangnya dengan pemikiran dan penukilan, tidak menuduh dalil agama, dan tidak berpikir untuk menyangkal.

  • Tawadhu kepada agama artinya adalah tunduk kepada apa yang dibawa Rasulullah SAW dan pasrah kepadanya. Hal ini bisa dilakukan dengan tiga cara:

  • Tidak menentang sedikit pun darinya dengan empat macam penentangan yang biasa dilakukan di dunia ini, yaitu dengan akal, qiyas, perasaan dan penyiasatan.

  • Tidak menuduh satu dalil pun dari dalil-dalil agama, dengan menganggapnya sebagai dalil yang tidak tepat, tidak relevan, kurang atau terbatas. Jika seseorang berpikir seperti ini, maka hendaklah ia mencurigai pemahamannya sendiri.

  • Tindak berpikir untuk menyangkal nash, entah di dalam batinnya, perkataan, maupun perbuatannya. Penangkalan ini merupakan masalah yang amat besar di sisi Allah dan menyeret kemunafikan.

Kedua, meridhai orang Muslim sebagai saudara sesama hamba seperti yang diridhai Allah bagi dirinya, tidak menolak kebenaran sekalipun datang dari musuh dan menerima maaf dari orang yang meminta maaf.

Ketiga, tunduk kepada Allah, melepaskan pendapat dan kebiasaan dalam mengabdi, tidak melihat hakmu dalam muamalah. Yang disebut tawadhu' ialah pengabdianmu kepada Allah, beribadah kepada-Nya seperti yang diperintahkanNya kepadamu dan bukan menurut pendapat sendiri.

Dalil Tawadhu

Terdapat beberapa dalil dalam Al-Quran maupun hadits yang menunjukkan perintah dan kemuliaan dari sifat tawadhu, di antaranya:

Surat Al-Furqan Ayat 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

Surat Al-Maidah Ayat 54

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Hadits

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Dengan sikap tawadhu dapat membuat orang tidak meremehkan orang lain. Di sisi lain, tawadhu membuat orang ditinggikan derajatnya. Maka dari itu, sifat yang satu ini sangatlah mulia dan harus diperjuangkan.(MZM)