Definisi Sisindiran Rarakitan dalam Bahasa Sunda beserta Contohnya

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sisindiran rarakitan merupakan jenis karya sastra Sunda yang memiliki keunikan tersendiri. Untuk mengenal lebih jauh tentang sisindiran dan rarakitan dalam bahasa Sunda, mari kita simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Baca juga: 3 Contoh Paparikan Bahasa Sunda Lengkap dengan Artinya
Definisi Sisindiran Rarakitan dalam Bahasa Sunda dan Contohnya
Sastra daerah merupakan salah satu bentuk keunikan yang dimiliki setiap daerah di Indonesia. Biasanya sastra daerah menggunakan bahasa daerah sesuai dengan asalnya. Salah satu sastra daerah yang populer di Indonesia adalah sisindiran rarakitan. Sisindiran merupakan pantun bahasa Sunda yang terdiri atas sampiran dan isi.
Lebih lengkap, pembahasan mengenai definisi sisindiran dijelaskan dalam buku berjudul Seni Tutur Madihin: Ekspresi Bahasa dan Sastra Banjar yang disusun oleh Abdul Salam (2018: 105). Dikutip dari buku tersebut bahwa puisi rakyat Sunda yang terkenal adalah sisindiran. Sisindiran adalah salah satu bentuk puisi Sunda lama yang terdiri atas sampiran dan isi.
Masih dalam buku yang sama, dijelaskan pula bahwa kepuisiannya terbatas pada rima dan irama, bukan pada diksi dan imajinasi, seperti halnya puisi modern. Bahasanya mudah dipahami seperti bahasa sehari-hari sehingga sisindiran banyak dituturkan dalam suasana santai, berkelakar, berbincang-bincang, dan suasana formal. Sisindiran terbagi atas tiga jenis antara lain paparikan, rarakitan dan wawangsalan.
Rarakitan merupakan salah satu jenis sisindiran Sunda yang tersusun dengan jumlah baris genap. Penjelasan lengkap mengenai rarakitan dipaparkan dalam buku berjudul Kamus Istilah Sastera Indonesia yang ditulis oleh Ajip Rosidi (2018: 197). Dalam buku tersebut tertulis bahwa rarakitan merupakan istilah dalam sastra Sunda yang menunjukkan bahwa sisindiran atau pantun itu tidak berdiri sendiri melainkan bersatu dengan sisindiran dan pantun sesudahnya, seakan-akan sarakit.
Dalam rarakitan setiap baris terdiri atas 8 suku kata (engang). Rarakitan umumnya terdiri atas 4 baris; baris ke-1 dan ke-2 cangkang, baris ke-3 dan ke-4 isi. Dalam rarakitan, hubungan antara cangkang dan isi harus satu selaras dan sama purwakanti dalam setiap akhirannya. Rarakitan di dalam sisindiran adalah kawih 'lagu' yang sampiran dan isinya memiliki kesamaan pada awal lariknya.
Rarakitan memiliki keunikan dengan penggunaan kata-kata di awal baris pertama yang disebutkan lagi di awal baris ketiga. Tak hanya itu, dalam rarakitan juga terdapat penyebutan ulang kata-kata yang digunakan di awal baris kedua dan kemudian disebutkan lagi di awal baris ke empat.
Untuk memudahkan Anda memahami apa itu sisindiran rarakitan, berikut ini salah satu contoh sisindiran rarakitan.
Lamun hayang hirup boga
Kudu daek jeung bungahna
Lamun hayang asup surga
Kudu daek ibadahna
Demikian pembahasan tentang apa itu sisindiran rarakitan dalam bahasa Sunda beserta contohnya. Pengetahuan tentang sastra daerah ini dapat memperkaya wawasan Anda khususnya tentang keragaman karya sastra di Indonesia. (DAP)
