Dua Film Dokumenter Dilombakan dengan 13 Film Fiksi
Tulisan dari syarifudin taufiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Festival film dikalangan siswa SMA sederajat sudah semakin banyak digelar di Indonesia. Kategorinyapun berbeda beda, ada yang mengadakan festival khusus film fiksi pendek atau panjang, dan juga film dokumenter. Kedua kategori ini sangatlah berbeda dari segi penilaiannya walaupun dengan tema yang sama.
Penjurian festival film biasanya dilakukan oleh orang - orang yang sarat pengalaman dan sudah mempunyai banyak karya pada bidang perfilman. Sabtu (11/03) adalah penganugrahaan festival film yang diadakan FFPJ (Festival Film Pelajar Jogjakarta) yang bersinergi dengan EDP (Eliminate Dengue Project) dan Fakultas Kedokteran UGM (Universitas Gadjah Mada). Pada acara itu ada 15 film pendek karya siswa - siswi Yogyakarta dari 15 sekolah yang berbeda, dua diantaranya adalah film dokumenter dan 13 film untuk film fiksi. Film itu diberi tema untuk membicarakan DBD (Demam Berdarah).

Ada hal yang ganjil dari penganugrahan dari acara itu, penilaian dari ke 15 film tidak dibedakan antar film dokumenter dan film fiksi, semua aspek penjurian diperlakukan sama. Nominasi juara dari juara 1, 2 3, hingga harapan 1 sampai 4, dari semua nominasi itu dua film dokumenter tidak ada yang masuk sama sekali. Dua film dokumenter itu adalah karya MAN 1 Yogyakarta dan SMK 1 Muhammadiyah Yogyakarta.

