Faktor Pendorong Masyarakat Tidak Mampu Melakukan Mobilitas Sosial

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Faktor pendorong bagi kelompok masyarakat tidak mampu untuk melakukan mobilitas sosial ada beberapa jenis. Hal ini menandakan bahwa tidak semua orang bisa menerapkan mobilitas sosial dengan mudah.
Padahal, mobilitas sosial diperlukan agar seseorang dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik dan tidak stagnan, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya.
Faktor Pendorong Kelompok Masyarakat Tidak Mampu Melakukan Mobilitas Sosial
Mengutip buku Sosiologi Pendidikan Islam oleh Khaidir, dkk (2022), mobilitas sosial merupakan proses berhasil atau gagalnya seseorang dalam melakukan aktivitas sosialnya.
Setiap individu berkesempatan untuk berpindah posisi, baik secara vertikal maupun horizontal. Adapun faktor pendorong bagi kelompok masyarakat tidak mampu untuk melakukan mobilitas sosial yakni sebagai berikut:
1. Kemiskinan
Kemiskinan adalah salah satu faktor penghambat mobilitas sosial. Hal ini karena masyarakat yang miskin cenderung lebih sulit mencapai status sosial yang lebih tinggi.
Misalnya, ia tidak mampu menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akibat keterbatasan ekonomi. Alhasil, mata pencaharian yang bisa didapatkannya tidak bisa ‘naik kelas’.
2. Sistem Lapisan Sosial yang Tertutup
Sistem lapisan sosial yang tertutup dapat menghalangi seorang individu untuk melakukan mobilitas sosial vertikal. Contohnya, dalam masyarakat feodal, rakyat biasa tidak akan mampu menduduki lapisan sosial atas atau sejajar dengan kaum bangsawan.
3. Kebudayaan Masyarakat
Kebudayaan masyarakat yang masih bersifat konservatif juga dapat menghambat seseorang dalam mencapai mobilitas sosial. Hal ini karena ciri khas dari masyarakat konservatif adalah cenderung mempertahankan kebiasaan lama yang telah ditanamkan oleh nenek moyang.
4. Stereotip Gender
Meskipun zaman sudah maju, namun hingga saat ini masih ada sebagian masyarakat yang berpikir bahwa wanita sebaiknya tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami.
Alhasil, ijazah yang ditempuh selama ini dianggap tidak berguna dan hanya buang-buang uang saja. Stereotip gender juga menjangkit laki-laki yang menjalani pekerjaan yang bersifat feminin. Misalnya seperti penari tradisional, koki, dan lain sebagainya.
Baca juga: (Perbedaan Mobilitas Vertikal dan Mobilitas Horizontal dalam Status Sosial)
Faktor pendorong bagi kelompok masyarakat tidak mampu untuk melakukan mobilitas sosial yang disebutkan di atas bisa diminimalisir. beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu dengan menempuh pendidikan tinggi, tidak takut berinovasi, dan terbuka dengan dunia luar. (DLA)
