Jelaskan Latar Belakang Budaya Nyangku di Panjalu Ciamis!

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jelaskan latar belakang budaya Nyangku di Panjalu! Nyangku merupakan salah satu upacara adat sekaligus warisan budaya tak benda dari Kabupaten Ciamis. Budaya ini sudah lama dilaksanakan, yaitu sejak masa Kerajaan Panjalu.
Meskipun merupakan tradisi lama, Nyangku masih dilaksanakan hingga saat ini. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami latar belakang budaya ini.
Jelaskan Latar Belakang Budaya Nyangku di Panjalu! Inilah Penjelasannya
Jelaskan latar belakang budaya Nyangku di Panjalu, Ciamis! Mengutip dari Mozaik Sejarah Lokal Nusantara: Kumpulan Naskah Sejarah Populer, Barega, dkk (2021:47), Nyangku adalah upacara ritual sebagai penghormatan terhadap para leluhur.
Nyangku merupakan ritual membersihkan atau memandikan benda-benda keramat atau pusaka peninggalan dari Kerajaan Panjalu. Biasanya, upacara ini dilakukan pada pekan terakhir bulan Rabiulawal di hari Senin atau Kamis.
Upacara Nyangku digelar untuk membersihkan benda pusaka sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Panjalu yang sudah menyebarkan agama Islam. Upacara adat ini dilakukan oleh Yayasan Borosngora dan didukung oleh sesepuh Panjalu, Pemerintah Desa Panjalu, tokoh masyarakat, keturunan raja Panjalu, dan pihak lainnya.
Kata ‘nyangku’ asalnya dari kata ‘yanko’ dalam bahasa Arab yang berarti pembersihan. Pelafalan ‘yanko’ tersebut kemudian berubah menjadi ‘nyangku’. Adapun ‘nyangku’ dalam bahasa Sunda bisa merupakan singkatan dari ‘nyaangan laku’ yang artinya menerangi perilaku.
Proses Upacara Nyangku
Sama seperti upacara adat lainnya, ada tahapan proses dalam upacara Nyangku yang harus diikuti. Berikut adalah tahapan proses upacaranya.
Benda peninggalan Raja Panjalu Prabu Borosngora dikeluarkan dari Pasucian Bumi Alit.
Pusaka tersebut diarak oleh keturunan raja Panjalu dan beberapa warga terpilih. Para keturunan raja dan tokoh adat Panjalu yang terlibat harus mengenakan pakaian adat, yaitu baju pangsi dan ikat kepala.
Selama arak-arakan benda pusaka tersebut, peserta membaca selawat dan diiringi dengan musik gembyung menuju Situ Lengkong Panjalu.
Setelah proses pengajian dan pembacaan doa di makam raja Panjalu selesai, benda pusaka tersebut diarak kembali ke Taman Borosngora.
Benda pusaka akan dibersihkan di Taman Borosngora. Adapun benda pusaka yang dibersihkan adalah pedang, cis, keris komando, keris, pancaworo, bangreng, dan gong kecil.
Baca juga: Sejarah Perkembangan Cerita Wayang Beber di Bumi Nusantara
Jelaskan latar belakang budaya Nyangku di Panjalu! Upacara adat ini dilaksanakan setiap tahunnya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Panjalu yang sudah menyebarkan agama Islam. (KRIS)
