Konten dari Pengguna

Jenis Cerita Fiksi pada Teks Berjudul Si Pitung

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa jenis cerita fiksi teks berjudul ‘Si Pitung’? Berikan alasanmu!. Sumber: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Apa jenis cerita fiksi teks berjudul ‘Si Pitung’? Berikan alasanmu!. Sumber: unsplash.com

Dalam karya sastra Indonesia, ada berbagai jenis cerita fiksi yang menarik untuk diketahui. Beragamnya jenis cerita fiksi inilah yang membuat bahan bacaan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa menjadi sangat banyak. Lantas, apa jenis cerita fiksi teks berjudul ‘Si Pitung’? Berikan alasanmu!

Untuk kamu yang masih bingung dalam menjawab pertanyaan tersebut, simak ulasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

Baca Juga: Contoh Cerita Fiksi Pendek beserta Ciri-Cirinya

Apa Jenis Cerita Fiksi Teks Berjudul ‘Si Pitung’?

Apa jenis cerita fiksi teks berjudul ‘Si Pitung’? Berikan alasanmu!. Sumber: unsplash.com

Jadi, sebenarnya jenis cerita fiksi yang berjudul ‘Si Pitung’ merupakan fiksi sage atau yang juga dikenal dengan sebutan saga. Secara umum, sage merupakan jenis cerita fiksi yang menceritakan kepahlawanan seorang tokoh cerita dengan karakter utama pemberani dan gemar membela sesama.

Hal inilah yang membuat cerita ‘Si Pitung’ termasuk ke dalam fiksi sage karena di dalam cerita ini berisi tentang kepahlawanan tokoh utama Pitung yang juga dikaitkan dengan unsur sejarah.

Pada cerita ‘Si Pitung’, tokoh utama disebut memiliki ilmu bela diri yang mumpuni karena merupakan murid dari sosok hebat bernama Haji Naipin. Kemudian Pitung menggunakan ilmunya tersebut untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Namun, sayangnya Pitung harus menyerah dan mati tertembak oleh Belanda.

Teks Cerita Fiksi ‘Si Pitung’

Berikut ini adalah teks cerita fiksi ‘Si Pitung’ yang dikutip dari buku Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi karya Dian (2021).

Suatu sore Si Pitung melihat kelakuan anak buah Babah Liem yang sewenang-wenang. Dimana Babah Liem adalah tuan tanah di daerah tempat tinggal Si Pitung.

Dia dan anak buahnya sering merampas harta rakyat dan menarik pajak tinggi. Sebagian hasil rampasan itu akan diberikan kepada Pemerintahan Belanda.

Si Pitung bertekad untuk melawan anak buah Babah Liem. Ia kemudian, berguru kepada Haji Naipin, yang merupakan seorang ulama dan juga pandai ilmu bela diri.

Si Pitung cepat menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh Haji Naipin. "Pitung, gunakan ilmu yang kuberikan untuk membela orang orang yang tertindas. Jangan sekali kali kau gunakan ilmumu ini untuk menindas orang lain," pesan Haji Naipin.

Sekarang Si Pitung sudah siap untuk melawan anak buah Babah Liem. Dia bahkan menghentikan ulah anak buah Babah Liem yang sedang merampas harta rakyat jelata.

"Heh, anak muda! Siapa kau? Beraninya menghentikan kami!," tanya salah satu anak buah dari Babah Liem.

"Kalian tak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku akan menghentikan ulah kalian selamanya," jawab Si Pitung.

Anak buah Babah Liem pun menyerang Si Pitung. Namun, Si Pitung bisa mengalahkan mereka semua. Sejak saat itulah, nama Si Pitung menjadi terkenal di kalangan penduduk. Si Pitung pun memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada rakyat jelata.

Ia bertekad untuk mengambil kembali hak yang sudah dicuri oleh tuan tanah tersebut, dan mengembalikannya kepada rakyat. Dia mengajak beberapa temannya untuk bergabung dengannya. Kelakuan Si Pitung tidak disukai oleh tuan tanah dan juga Pemerintah Belanda.

Mereka mengeluarkan perintah untuk menangkap Si Pitung. Namun, Si Pitung amat cerdik. Dia selalu berpindah pindah tempat sehingga pemerintah Belanda dan juga tuan tanah tidak bisa menangkapnya.

Karena kesal, pemerintah Belanda menggunakan cara licik. Mereka menangkap Pak Piun ayah Si Pitung dan haji Naipin.

Salah satu pejabat Pemerintah Belanda yang bernama Schout Heyne mengumumkan bahwa jika Si Pitung tak menyerah, maka Pak Piun dan Haji Naipin akan dihukum.

Si Pitung mendengar berita tentang penangkapan ayah dan gurunya tersebut. Kemudian, ia menghadap Schout Heyne dan menyerahkan diri. Dia tak mau ayah dan gurunya menderita.

"Pitung, kau telah meresahkan banyak orang dengan kelakuanmu itu. Maka untuk itu kau harus dihukum tembak," kata Schout Heyne.

"Kau tidak keliru? Bukannya kau dan tuan tanah itu yang meresahkan orang banyak? Aku tidak takut dengan ancamanmu!," jawab Si Pitung.

Schout Heyne benar benar melaksanakan ancamannya. Si Pitung dihukum tembak. Hidup Si Pitung pun berakhir di ujung peluru.

Namun, kisah kepahlawannya tetap dikenang. Si Pitung di pahlawan rakyat jelata.

Itulah informasi tentang jenis cerita fiksi ‘Si Pitung’ dan teks naskahnya yang menarik untuk kamu ketahui. (Anne)