Kronologi G30S Mulai dari Latar Belakang hingga Pasca Kejadiannya secara Singkat

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa Gerakan 30 September atau lebih dikenal dengan G30S PKI merupakan salah satu peristiwa bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tak heran jika dalam mata pelajaran sejarah, siswa kerap diberikan materi kronologi G30S PKI.
Pasalnya, peristiwa ini begitu menggembarkan bangsa Indonesia kala itu. Jadi, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia mengetahui salah satu bukti sejarah kelam bangsa Indonesia pada saat itu.
Kronologi G30S PKI Secara Singkat
Mengutip dari buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum, Sutan Remy Sjahdeini (2021:190), kronologi G30S PKI berawal ketika terjadinya penculikan tujuh jenderal. Peristiwa ini terjadi pada 30 September-1 Oktober 1965.
Adapun kronologi peristiwa G30S PKI secara singkat yang dapat diketahui adalah sebagai berikut.
Gerakan 30 September 1965 berada di bawah kendali Letkol Untung yang berasal dari Komando Batalion I Resimen Cakrabirawa. Ia kemudian menunjuk Lettu Dul Arief menjadi ketua pelaksanaan penculikan.
Lalu, pasukan bergerak mulai pukul 03.00, di mana enam jenderal yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo serta satu perwira bernama Lettu Pierre Tendean.
Ketujuh orang tersebut dimasukkan ke dalam lubang di kawasan Pondok Gede, Jakarta.
Satu jenderal berhasil selama dari penculikan, yakni Jenderal A.H Nasution. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu Pierre Tendean menjadi korban.
Korban lain yang meninggal adalah Brigadir Polisi K.S. Tubun yang wafat saat mengawal rumah Dr. J. Leimena.
Gerakan ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta, di mana Kolonel Katamso dan Letkol Sugiono menjadi korban karena tidak mendukung gerakan ini.
Pasca berhasil menculik dan membunuh petinggi AD, PKI menguasai gedung Radio Republik Indonesia. Mereka juga mengumumkan dekrit bernama Dekrit No. 1 yang menyatakan bahwa gerakan G30S merupakan upaya penyelamatan negara dari dewan jenderal yang ingin mengambil alih negara.
Setelah berita mengenai G30S PKI meluas, demonstrasi anti-PKI mulai berlangsung di Jakarta. Operasi penumpasan juga berlanjut dengan menangkap orang-orang yang dianggap bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.
Pada akhirnya, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diduga menugaskan Soeharto untuk mengambil alih. Setelahnya, Soeharto mengeluarkan larangan terhadap PKI dan ormas-ormas di bawahnya.
Baca Juga: Mengenal Hari Kesaktian Pancasila yang Lekat dengan Peristiwa G30S PKI
Demikian ulasan singkat tentang G30S PKI. Mulai dari latar belakang hingga pasca kejadiannya yang melibatkan penculikan dan pembunuhan perwira tinggi TNI AD. (Anne)
