Macam-Macam Hukum BAB saat Puasa yang Harus Umat Muslim Ketahui

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hukum BAB saat puasa ternyata dapat membatalkan jika terjadi tiga perkara. Tiga perkara tersebut meliputi kentut di dalam air, memasukkan jari ke anus, serta sengaja memutuskan kotoran yang akan keluar hingga masuk lagi ke dalam.
Setiap muslim perlu mengetahui tiga kondisi tersebut agar mencegah diri dari tindakan yang dapat membatalkan ibadah puasa Ramadan. Puasa Ramadan itu sendiri merupakan ibadah wajib yang jika ditinggalkan berdosa dan harus menggantinya.
3 Macam Hukum BAB saat Puasa
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi setiap pemeluk agama Islam. Hukum wajib tersebut akhirnya membuat umat muslim begitu khawatir bila meninggalkan atau melakukan perbuatan yang membatalkan puasa.
Salah satu contoh dari kekhawatiran tersebut adalah keberadaan pembahasan tentang hukum BAB saat puasa. Jika dibaca atau didengar secara selintas, banyak orang tentu akan bertanya-tanya tentang hukum tersebut.
Faktanya, BAB (Buang Air Besar) memang dapat membatalkan puasa. Namun, hal itu tidak terjadi secara serta-merta. BAB dapat membatalkan puasa jika terjadi tiga kondisi. Berikut penjelasannya.
1. Kentut dalam Air hingga Air Masuk ke Anus
Kentut merupakan kondisi yang wajar, yakni ketika udara keluar dari anus. Namun, kentut saat pantat terendam di air (saat berendam atau buang air) dapat membuat sebagian air masuk ke anus setelah udara (kentut) keluar.
Dikutip dari laman NU Online, lampung.nu.or.id, ketika seseorang yang berpuasa kentut dalam air, kemudian terasa olehnya ada cairan masuk ke anus (dubur), maka hal tersebut membatalkan puasanya. Jika tidak ada cairan yang masuk, puasanya tetap sah.
2. Jari Masuk ke Anus
BAB yang juga dapat membatalkan puasa ketika memasukkan jari ke anus. Kondisi ini dapat terjadi saat orang yang selesai BAB membersihkan anus dengan jari atau air hingga terlalu dalam.
Jika membersihkan diri di area yang wajib saja (area luar), hal itu tidak masalah. Intinya adalah jangan sampai memasukkan jari ke dalam anus sebab itu membatalkan puasa.
3. Sengaja Memutuskan Kotoran yang Telah Keluar hingga Masuk Lagi
Sengaja memutuskan kotoran yang telah keluar hingga masuk lagi ke dalam anus juga dapat membatalkan puasa. Kondisi itu dapat terjadi saat seseorang yang berpuasa tiba-tiba memutuskan kotoran yang sedang keluar.
Kondisi tersebut termasuk tiba-tiba karena seseorang berpindah posisi pada pertengahan mengeluarkan kotoran sehingga kotoran yang sudah keluar kembali masuk. Perkara masuknya kembali kotoran yang sudah keluar itu jelas membatalkan puasa.
Mengutip dari laman yang sama, lampung.nu.or.id, berpindah posisi pada saat buang air besar adalah hal yang tidak perlu dilakukan. Jadi, jelas bahwa hal itu perlu dihindari. Wallahu a’lam bishawab.
Macam-Macam Perkara yang Membatalkan Puasa
Setelah menyimak hukum BAB ketika melaksanakan puasa, jelas bahwa ada tiga kondisi yang dapat membatalkan. Kondisi tersebut umumnya membuat sesuai masuk ke dalam anus, baik itu air, jari, maupun kotoran yang seharusnya sudah keluar.
Selain perkara itu, masih banyak perkara yang juga dapat membatalkan puasa. Dikutip dari buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, & Thibbun Nabawi, Kinanthi (2017: 9), berikut adalah beberapa hal yang membatalkan puasa.
Makan dan minum dengan sengaja. Jika makan atau minum karena lupa, puasa tidak batal.
Muntah dengan sengaja. Jika muntah karena sakit atau sesuatu yang lain, puasa tidak batal.
Suntikan yang berisi sari makanan (infus). Setiap tindakan memasukkan segala bentuk cairan ke dalam tubuh dengan sengaja maka itu dapat membatalkan puasa.
Keluarnya darah haid dan nifas.
Keluar madzi/mani dengan sengaja.
Berjima’ atau senggama.
Murtad atau keluar dari agama Islam.
Baca juga: Macam-Macam Hukum Puasa untuk Ibu Hamil berdasarkan Kondisinya
Jadi, hukum BAB saat puasa, boleh-boleh saja. Namun, seorang muslim yang berpuasa harus menghindari setiap perbuatan yang membuat air, jari, kotoran, dan segala bentuk benda masuk ke dubur sebab itu membatalkan puasa. Wallahu a’lam bishawab. (AA)
