Konten dari Pengguna

Memahami Ulama Indonesia yang Berasal dari Sumatera Barat yang Berpengaruh

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol. Foto: Unsplash/Adli Hadiyan Munif
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol. Foto: Unsplash/Adli Hadiyan Munif

Sumatera Barat merupakan provinsi yang menghasilkan banyak ulama yang berpengaruh besar. Salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol.

Keduanya memiliki peran besar terhadap Indonesia. Di sisi lain, Sumatera Barat secara historis memerankan peran penting dalam penyebaran Islam. Bahkan, tanah Minang melahirkan ulama-ulama besar.

Salah Seorang Ulama Indonesia yang Berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol

Ilustrasi salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol. Foto: Unsplash/Rachid Oucharia

Dikutip dari buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap oleh Mirnawati (2012), salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab lahir di Pasaman pada tahun 1772. Ayahnya bernama Bayanuddin yang merupakan seorang alim ulama dari Sungai Rimbang.

Saat dewasa, Tuanku Imam Bonjol adalah seorang pemimpin yang terkenal dengan gerakan dakwahnya di Sumatera Barat. Beliau menentang dengan tegas ajaran-ajaran agama yang menyimpang di tempatnya.

Mulanya, Perang Padri terjadi karena pertentangan antara kaum adat dan kaum Padri (agama). Kaum Padri berusaha untuk membersihkan ajaran-ajaran Islam yang menyimpang di kalangan kaum adat.

Akan tetapi golongan kaum adat merasa terancam dan mendapat bantuan dari Belanda. Sayangnya, Kaum Padri sangat tangguh dan sulit dikalahkan walaupun dengan bantuan dari Belanda.

Pada tahun 1824, Belanda mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol yang dinamakan Perjanjian Masang. Pada tahun 1825, usaha perdamaian dan gencatan senjata berhasil dilakukan.

Pihak Belanda mengakui kedaulatan Kaum Padri di beberapa wilayah Minangkabau. Namun, di balik perjanjian tersebut Belanda menyimpan rencana licik dengan menarik 4.300 tentara dan menyisakan 700 untuk menjaga benteng dan pusat pemerintahan Belanda.

Setelah Perang Diponegoro, Belanda menarik pasukannya untuk menyerang Kaum Padri. Pada tahun 1833, kaum adat yang awalnya menentang kemudian mendukung Kaum Padri untuk menghadapi Belanda. Akhirnya perang dapat dimenangkan.

Kegagalan tersebut membuat marah Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan mengirimkan Panglima tertinggi Mayor Jendral Cochius ke Bukittinggi. Pada akhirnya, Benteng Bonjol dapat ditaklukan. Namun Tuanku Imam Bonjol berhasil melarikan diri.

Dalam pelariannya, Tuanku Imam Bonjol melakukan perang gerilya. Secara tiba-tiba, datang surat tawaran dari Residence Francis dari Padang untuk berunding. Tuanku Imam Bonjol menerima tawaran tersebut di daerah Plupuh.

Pada tanggal 28 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol bersama pasukannya keluar dan menuju tempat perundingan. Namun Belanda ingkar janji dan menangkap Tuanku Imam Bonjol bersama pasukannya di Bukittinggi.

Tuanku Imam Bonjol diasingkan secara berpindah-pindah dari Cianjur, Ambon, dan akhirnya di Manado. Setelah pengasingan selama 27 tahun, pada tanggal 8 November di usia 92 tahun, Tuanku Imam Bonjol meninggal dan dimakamkan di Manado.

Baca Juga: Sunan Kalijaga: Walisongo yang Terkenal Aktif Berdakwah melalui Saluran Kesenian

Salah seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat adalah Tuanku Imam Bonjol. Semoga penjelasan ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal sosok ulama yang terkenal dari Sumatera Barat.(MZM)