Konten dari Pengguna

Mengenal Fenomena Solstis yang Akan Terjadi pada 21 Desember

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa itu fenomena solstis, sumber foto (Bryan Goff) by unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa itu fenomena solstis, sumber foto (Bryan Goff) by unsplash.com

Apa itu fenomena solstis? Media sosial tengah digegerkan dengan fenomena alam bernama solstis yang digadang-gadang akan berlangsung pada tanggal 21 Desember 2022. Tidak sedikit warganet yang menduga bahwa solstis akan menimbulkan dampak berbahaya bagi manusia yang ada di bumi. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk tidak keluar di malam hari pada tanggal 21 Desember agar tidak mengalami petaka akibat fenomena alam tersebut.

Perlu diketahui bahwa asumsi tersebut tidak valid dan hanya dugaan yang tidak berdasar. Pasalnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tidak membenarkan narasi yang sedang viral tersebut. Lalu, apa dampak dari adanya fenomena solstis tersebut? Simak penjelasannya di artikel ini.

Baca juga : (Viral Fenomena Solstis Tak Boleh Keluar Malam 21 Desember, Ini Faktanya)

Mengenal Fenomena Solstis yang Akan Terjadi pada 21 Desember

Ilustrasi Apa itu fenomena solstis, sumber foto (Lorenzo R.) by unsplash.com

Mengutip buku Kisah Ramadhan Mahasiswa Rantau oleh Muhammad Sabiq, dkk (2016), solstis merupakan fenomena ketika siang hari jauh lebih panjang dibanding malam hari.

Solstis atau titik balik matahari merupakan fenomena yang disebabkan terjadinya kemiringan sumbu Bumi yang berada pada sudut 23,5 derajat dari bidang orbitnya mengelilingi Matahari.

Saat mencapai puncak orbitnya, Bumi bagian utara dan selatan dapat memperoleh sinar matahari dengan jangka waktu yang tidak sama. Solstis terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan Desember.

Dampak Terjadinya Fenomena Solstis

Solstis Juni terjadi pada 20-21 Juni, sedangkan Solstis Desember terjadi pada 20-21 Desember.

Prediksi ilmiah menyatakan bahwa jadwal solstis dapat mengalami pergeseran. Namun, pergeseran waktu tersebut memerlukan waktu ratusan sampai ribuan tahun.

Negara-negara yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa tidak akan mendapatkan banyak dampak dari fenomena tersebut.

Sedangkan negara-negara yang berada di kawasan Bumi Selatan dan Utara akan merasakan perbedaan waktu siang dan malam yang cukup ekstrem.

Contohnya seperti kota Hamburg (Jerman) yang terletak di belahan Bumi Utara. Saat terjadi solstis Juni, maka kota tersebut akan mengalami durasi siang selama 17 jam. Sedangkan pada saat solstis Desember, durasi siang harinya hanya 7,5 jam.

Fenomena solstis 21 Desember di Indonesia hanya berpengaruh pada musim hujan saja, sehingga tidak menimbulkan dampak yang berbahaya. Jadi, isu tentang larangan keluar di malam hari pada tanggal 21 Desember adalah hoax alias hanya dugaan yang tidak terbukti kebenarannya. (DLA)