Mengenal Pupuh Maskumambang, Puisi Tradisional Khas Sunda

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kamu bahwa bangsa Indonesia memiliki berbagai kebudayaan dan karya seni yang khas dari daerah tertentu? Pupuh merupakan salah satu karya seni dalam bahasa Sunda yang sangat menarik untuk diketahui.
Pupuh merupakan tembang yang memiliki pola kalimat yang baku, atau dapat disebut juga sebagai lagu yang memiliki aturan tertentu dalam baris-baris liriknya dengan jumlah 17 patokan sesuai dengan jumlah jenis pupuh yang ada di Jawa Barat.
Dikutip dari buku Pendidikan Musik: Permasalahan dan Pembelajarannya yang ditulis oleh J. Julia (2017: 67), pupuh memiliki beberapa aturan, seperti jumlah baris, jumlah suku kata, dalam baris, huruf vokal dalam suku kata terakhir dalam setiap baris, dan watak setiap pupuh.
Salah satu pupuh yang menarik untuk diketahui adalah pupuh maskumambang. Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai pupuh maskumambang, puisi tradisional khas Sunda.
Baca juga: 5 Contoh Pupujian Bahasa Sunda tentang Ketuhanan
Mengenal Pupuh Maskumambang, Puisi Sunda
Dikutip dari buku Wawacan: Sebuah Genre Sastra Sunda yang ditulis oleh Ruhaliah (2018: 50), pupuh maskumambang merupakan pupuh yang menggambarkan keadaan yang sangat sedih. Sasmitanya adalah kata-kata kumambang, ngambang, kentir, bingbang, dan maskumambang. Pupuh maskumambang memiliki aturan guru wilangan dan guru lagu, sebagai berikut 12-i, 6-a, 8-i, dan 8-a.
Agar lebih paham mengenai pupuh maskumambang, berikut salah satu contoh penggalan karya pupuh maskumambang beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Sajajalan henteu eureun-eureun ceurik,
Cipanon rambisak,
Disusutan bijil deui,
mani cipru saputangan
Terjemahan:
Sepanjang jalan tidak berhenti menangis,
Air mata mengalir,
Diusap keluar lagi,
Hingga basah saputangan.
Barang datang kalimah teu tata deui,
Bawaning teu tahan,
Nahan ka sedih prihatin,
Goal ceurik lolongséran.
Terjemahan:
Ketika sampai di rumah tidak dipikir lagi,
Saking tidak kuatnya,
Menahan kesedihan.
Lalu menangis sejadi-jadinya.
Sasambatna “Aduh-aduh Kang Marjuki,
Kumaha petana,
Diri abdi nyeri peurih,
Teu kiat nandang kaususah.
Terjemahan:
Ia memanggil-manggil, “Aduh-aduh Kang Marjuki,
Apa yang harus kulakukan,
Diriku sakit sekali,
Tidak tahan menderita.
Itulah penjelasan mengenai pupuh maskumambang, puisi tradisional khas Sunda. Semoga informasi ini bermanfaat! (CHL)
