Konten dari Pengguna

Penjelasan Bagaimana APBD Dikatakan Defisit menurut Ilmu Ekonomi

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bagaimana apbd dikatakan defisit. Sumber: Unsplash.com/Markus Spiske
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bagaimana apbd dikatakan defisit. Sumber: Unsplash.com/Markus Spiske

Bagaimana APBD dikatakan defisit? Pembahasan tentang APBD dalam ilmu ekonomi memang kerap menjadi topik yang membingungkan, terutama bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang baru saja mempelajarinya.

Sebagaimana judulnya, artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai APBD defisit secara ringkas dan jelas untuk Anda yang ingin segera paham dalam waktu yang singkat. Mari simak penjelasan selengkapnya dengan membaca uraian di bawah ini.

Kapan APBD dikatakan Defisit?

Ilustrasi Defisit. Sumber: Unsplash.com/Markus Spiske

APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) dikatakan defisit jika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Yups! Hal ini sebagaimana makna kata defisit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu kekurangan (dalam anggaran belanja).

Jadi, defisit APBD artinya kondisi ketika suatu daerah mengalami pengeluaran yang lebih besar dibandingkan pendapatan yang mereka peroleh. Sekarang sudah tahu tentang kondisi APBD dikatakan defisit, bukan?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengatasi defisit APBD? Pemerintah Daerah dapat mengatasi kondisi tersebut dengan berbagai cara yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut.

Baca juga: Pengertian, Fungsi, dan Tujuan APBN Indonesia

Namun, secara umum ada enam cara yang dapat ditempuh untuk menutup defisit APBD. Berikut adalah beberapa cara yang mungkin dapat ditempuh untuk menutup defisit APBN/APBD yang mengutip dari buku Cara Muda Menghadapi Ujian Nasional 2008 Ekonomi SMA/MA karya Purnastuti dan Dhyah (2008: 45).

  1. Menghemat pengeluaran yang kurang perlu, meningkatkan efisiensi aparatur negara, serta memperketat kontrol intern;

  2. Melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi pajak, perluasan dasar pajak, perluasan jumlah wajib pajak, penyesuaian tarif, penyempurnaan sistem pemungutan pajak;

  3. Mengurangi subsidi pemerintah tanpa membahayakan tercukupinya kebutuhan pokok bagi masyarakat;

  4. Pencetakan uang baru oleh bank sentral. Akan tetapi, pilihan ini bukanlah pilihan yang terbaik karena dengan menambah jumlah uang yang beredar akan memicu munculnya inflasi.

  5. Pinjaman dalam negeri dengan cara menjual obligasi negara;

  6. Mencari pinjaman luar negeri. Meskipun pinjaman luar negeri tidak akan membawa efek inflasi, negara harus menanggung beban cicilan dan bunga pinjaman.

Gimana, pembahasan tentang APBD defisit kali ini sudah cukup jelas, kan? Sekian informasi kali ini. Sampai jumpa lagi dengan berbagai pembahasan informatif lainnya. (AA)