Perbedaan Pengembangan Kurikulum Menggunakan UBD dengan Lainnya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kurikulum adalah sesuatu yang penting di dunia pendidikan. Dengan adanya kurikulum, tenaga pengajar bisa mempunyai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Kurikulum juga bisa menjadi standarisasi pembelajaran yang diterapkan oleh pemerintah.
Dalam pengembangannya, kurikulum mempunyai berbagai model yang biasa digunakan. Salah satu model tersebut adalah UbD. UbD adalah singkatan dari Understanding by Design yang diserap dari bahasa Inggris.
Seperti apakah kurikulum tersebut dan apa perbedannya dengan kurikulum lainnya? Simak ulasannya di bawah ini untuk menjawab “jelaskan perbedaan pengembangan kurikulum menggunakan UbD dengan pengembangan kurikulum dengan model lainnya!”.
Baca juga: Prosedur Pengembangan Kurikulum yang Sesuai di Sekolah
Mengenal Pengembangan Kurikulum dengan UbD
Mengutip jurnal sains dengan judul Perancangan Pembelajaran Fisika tentang Rangkaian Seri dan Paralel untuk Resistor Menggunakan Understanding by Design (UbD) oleh Sinta Pertiwi, dkk (2019), Understanding by Design (UbD) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada tujuan pembelajaran itu sendiri.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa tujuan akhir dari pembelajaran adalah hal yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan model ini. Tujuan ini meliputi hasil belajar dan cara berpikir siswa tentang pembelajaran tersebut.
Oleh sebab itu, tenaga pendidik menempatkan siswa di menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Caranya adalah dengan membuat pembelajaran yang sesuai dengan siswa agar target tersebut bisa tercapai.
Perbedaan UbD dengan Model Lain
Dari penjelasan pada paragraf sebelumnya dapat kita ketahui bahwa perbedaan paling mencolok antara UbD dengan model lainnya adalah penempatan siswa sebagai fokus pembelajaran. Dengan demikian, guru akan lebih memperhatikan kebutuhan siswa.
Tak hanya itu, siswa juga bisa lebih memperoleh penilaian yang otentik daripada pengembangan kurikulum dengan model lainnya. Hal ini dilakukan agar tenaga pendidik tahu apakah tujuan dari pembelajaran sudah tercapai apa belum.
Pengembangan kurikulum ini juga bisa lebih mengurangi anggapan bahwa tenaga pendidik adalah pusat dari pembelajaran daripada model lainnya. Dengan demikian, tenaga pendidik juga memikirkan apa yang terbaik untuk para siswanya.
Itulah perbedaan antara pengembangan kurikulum dengan UbD dibanding model lainnya. Sejauh ini, konsep UbD baik diterapkan di Indonesia agar para siswa bisa lebih memperoleh manfaat dari pembelajaran. (LOV)
