Puisi Hujan di Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan Maknanya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbicara puisi ikonik di Indonesia, puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono menjadi salah satunya. Puisi legendaris tersebut banyak digunakan untuk seseorang yang sedang menanti seseorang yang dicintai.
Hal ini tak terlepas dari makna yang ada di dalam puisi tersebut. Selain itu, banyak yang penasaran makna di balik puisi dari sastrawan asal Surakarta ini.
Puisi Hujan di Balik Juni Karya Sapardi Djoko Damono
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang sastrawan legendaris yang lahir pada 20 Maret 1940 di Kota Surakarta. Sosok yang kerap dipanggil dengan inisial SDD merupakan menulis karya sejak masa SMA.
Kemampuan tersebut membuat Sapardi mengambil jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Bahkan, kegemarannya akan menulis karya sastra berkembang pesat saat duduk di bangku kuliah.
Tahun 1973, Sapardi pindah dari Semarang ke Jakarta menjadi pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. Sejak tahun 1974, Saparti mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia.
Berbagai karya sastra ditulis sosok yang pernah menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia periode 1995-1999 tersebut, salah satunya adalah puisi Hujan di Bulan Juni, yakni:
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Makna Hujan di Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono
Dikutip dari Jurnal Membaca Bahasa & Sastra Indonesia oleh tim HLI Cabang Untirta dan HISKI Banten (2016) makna di balik puisi Hujan di Bulan Juni adalah sebuah penyairan, yakni hujan yang jarang terjadi di Bulan Juni.
Pasalnya, Juni berada pada musim kemarau yang jarang sekali terjadi hujan. Apabila ada hujan, datangnya tidak akan lebat atau hanya sebatas rintik-rintik.
Dalam puisi ini menggambarkan seseorang yang tengah menanti seseorang yang ia kasihi. Bait pertama menggambarkan ketabahan seseorang dalam menanti sang pujaan hati.
Ketabahannya tidak sebanding dengan tabahnya hujan di bulan Juni, yang sangat tabah sedangkan dirinya tidak setabah itu.
Pada bait ini juga digambarkan bahwa ia menyembunyikan rasa rindunya kepada pujaan hatinya. Pohon berbunga itu diartikan sebagai seseorang yang indah dan dinanti.
Bait kedua menggambarkan kebijakan seseorang yang sangat bijak dan tidak ada yang melebihi kebijakan penantiannya itu. Orang tersebut menghapus semua jejak yang pernah ada dari rasa ragu atau keraguan yang telah menghinggapi pada dirinya.
Bait ketiga menggambarkan bahwa tidak ada yang lebih arif dari sebuah penantiannya. Orang tersebut hanya menyimpan rasa rindu dan cintanya itu dengan berdiam diri.
Pada bait ketiga ini juga digambarkan bahwa sebuah penantian yang diikuti dengan rasa ikhlas maka akan berbuah manis.
Cinta yang ia pendam selama ini akhirnya diterima sang pujaan hati, hal ini dapat dilihat dari larik ke-4 pada bait terakhir “diserap akar pohon bunga itu”. Orang tersebut membiarkan tidak terucap segala apa yang ia rasakan selama penantian.
Dari ketiga bait puisi tersebut dapat dimaknai bahwa apabila mencintai seseorang dan menanti perjumpaan dengannya maka harus seperti hujan di bulan Juni, yang sangat jarang terjadi.
Penantian yang dilakukan harus sangat tabah, bijak, dan arif. Manusia harus bisa menahan rasa rindu dan menghapus pikiran-pikiran yang negatif pada diri kita. Sehingga, penantian yang selama ini dilakukan tidak akan sia-sia dan akan berbuah manis.
Baca Juga: Makna Puisi Tragedi Winka dan Sihka yang Berbentuk Unik
Demikian informasi tentang puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Dengan pesan yang begitu mendalam, tak mengherankan jika puisi ini begitu dikenal banyak kalangan.(MZM)
