Sejarah Perjuangan Tokoh Organisasi Sarekat Islam dalam Merebut Kemerdekaan

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah perjuangan dalam melawan penjajah tidak lepas dari jasa organisasi pergerakan nasional. Sarekat Islam merupakan salah satu organisasi nasional yang berlandaskan Islam dalam pergerakannya. Berikut adalah sejarah perjuangan tokoh organisasi Sarekat Islam dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
Perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda dimulai pada era pergerakan nasional. Pada masa pergerakan nasional, golongan terpelajar bersatu untuk membentuk berbagai organisasi. Sarekat Islam merupakan salah satu organisasi nasional yang pergerakannya dilandasi Islam.
Sejarah Perjuangan Tokoh Organisasi Sarekat Islam
Sarekat Islam merupakan wujud dari cara dan strategi baru dalam perjuangan merebut kemerdekaan melalui organisasi dan kekuatan diplomasi. Berikut adalah sejarah perjuangan tokoh organisasi Sarekat Islam dalam melawan Belanda, yang dikutip dari buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI, Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum.; Arif Pradono, S.S., M.I.Kom., Friska Indah Kartika, S.Hum. (2019:98).
Sarekat Islam (SI) didirikan oleh Haji Samanhudi yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan awal berdirinya SDI adalah memberikan bantuan kepada pedagang batik lokal muslim, agar dapat bersaing dengan pedagang Tionghoa.
Pada tahun 1912, di bawah kepemimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. Perubahan ini bertujuan agar keanggotaan organisasi tersebut bersifat terbuka dan tak lagi terbatas.
Pada kongres yang diadakan tahun 1916, HOS Tjokroaminoto dalam pidatonya menyampaikan perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Sayangnya, pada Kongres Sarekat Islam tahun 1921, terjadi perpecahan pada Sarekat Islam sehingga menjadi dua kubu.
Sarekat Islam Putih, dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdoel Muis yang berpusat di Jogjakarta, serta tetap berlandaskan nasionalisme Islam.
Sarekat Islam Merah, dipimpin oleh Semaun dan Tan Malaka yang beraliran sosialisme kiri (komunis), serta berpusat di Semarang.
Dua kubu ini sulit dipersatukan hingga Agus Salim dan Abdoel Moeis mengusulkan kepada peserta kongres agar ditetapkan disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Artinya tiap satu orang hanya diijinkan berada dalam satu organisasi.
Setelah usulan tersebut diterima, anggota Sarekat Islam Merah yang keluar dari Sarekat Islam Putih akhirnya mendirikan Sarekat Rakyat. Adapun Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam. Pada tahun 1927, PSI berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
Sejarah perjuangan tokoh organisasi Sarekat Islam dalam melawan Belanda merupakan bagian dari tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan terpelajar bumiputera.(DK)
