Konten dari Pengguna

Sejarah Tradisi Ziarah Kubur saat Lebaran dalam Agama Islam

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran dalam Agama Islam. Sumber: www.pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran dalam Agama Islam. Sumber: www.pixabay.com

Hitungan hari umat Islam akan melaksanakan lebaran. Selama menjelang lebaran di bulan Ramadhan ini umat islam akan melaksanakan beberapa tradisi, salah satunya adalah tradisi ziarah kubur. Simak artikel di bawah ini untuk mengetahui sejarah tradisi kubur saat lebaran pada bulan Ramadhan.

Sejarah Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran

Ilustrasi Sejarah Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran dalam Agama Islam. Sumber: www.pixabay.com

Tidak menjadi hal yang mengherankan lagi jika saat menjelang hari lebaran pada bulan Ramadhan banyak umat muslim yang berziarah. Dikutip dari buku “Mari Zirah Kubur” yang ditulis oleh Abdurrahman Misno (2021), berziarah kubur akan mengingatkan umat manusia kepada kematian.

Dalam islam ziarah kubur memiliki hikmah yang begitu banyak. Berdasarkan budayanya ziarah kubur adalah sebuah tradisi yang ada sebelum kehadiran islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad.

Namun ziarah kubur selalu lekat dengan banyak budaya bahkan dalam umat muslim. Ziarah kubur mengingatkan pada adanya waktu usai pada manusia yaitu kematian.

Ziarah secara etimologi (bahasa) berasal dari bahasa Arab yaitu kata - zaara-yaziiru-ziyaratan dan mazaaran yang berarti mengunjungi atau menengok. Kata ini memiliki turunan makna yang cukup banyak semisal tazawwara yang bermakna saling mengunjungi.

Ilustrasi Sejarah Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran dalam Agama Islam. Sumber: www.pixabay.com

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa makna ziarah adalah kunjungan ke tempat yang dianggap keramatatau mulia (makam dsb). Sedangkan istilah “berziarah” berarti berkunjung ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (seperti makam) untuk berkirim doa.

Sementara زَارَهُ - يَزُورُهُ - Kamus al Mishbahul Munir menyebutkan kata yaitu hendak bepergian menuju فَصَدَهُ yang berarti زِيَارَةً - وَزَوْرًا suatu tempat. Maka dapat disimpulkan bahwa makna ziarah secara bahasa adalah berkunjung, orang yang melakukan kunnjungan disebut penziarah.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa tradisi ziarah kubur telah ada sejak zaman dahulu kala. la ada di berbagai peradaban umat manusia sejak zaman dahulu kala. Sehingga masyarakat Jahiliyah di Arab pun mengenalnya.

Ziarah pada masyarakat jahiliyah dilakukan pada waktu- waktu tertentu dengan tujuan untuk memohon perlindungan kepada penghuni kubur.

Mereka juga berkurban di atasnya dan meminta keselamatan dari penghuninya. Keyakinan ini muncul karena mereka menganggap diri mereka penuh dengan dosa, sementara para penghuni kubur yang mereka ziarahi adalah ahli ibadah yang suci.

Anggapan ini kemudian memunculkan penyembahan kepada kuburan. Intinya ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah adalah perbuatan syirik yang menyekutukan Allah ta'ala.

Pusat ziarah yang paling ramai dikunjungi masyarakat jahiliyah dan Arab adalah Ka'bah. Walaupun sebenarnya tradisi ziarah ke Ka'bah adalah peninggalan Nabi Ibrahim, namun dalam praktiknya banyak dikotori oleh perbuatan syirik dengan menyembah patung-patung yang diletakan di sekitar Ka'bah.

Tercatat patung-patung tersebut mencapai 300 lebih yang selalu dijadikan tempat berziarah. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab sirah pernah diajak oleh ibundanya untuk berziarah ke makam ayahnya di Madinah.

Baca Juga: Diizinkan Pemkot, Warga Depok Ziarah saat Lebaran

Bersama dengan pembantunya Ummu Aiman, Aminah mengajak beliau untuk mengunjungi kuburan ayah Nabi di Madinah yang meninggal sebelum beliau lahir.

Intinya bahwa ziarah kubur pada masyarakat Arab Jahiliyah sudah ada namun lebih banyak kepada penyimpangan penyembahan kepada selain Allah ta'ala, yaitu kuburan dan orang-orang yang di kubur di dalamnya.

Lebih dari itu mereka membuat patung-patung dari orang-orang sholeh yang sudah meninggal tersebut dan kemudian menyembahnya. Sebagian mereka bernadzar, menyembelih dan beri'tikaf di dekat patung-patung tersebut.

Hal inilah kenapa pada awal Islam ziarah kubur dilarang, karena dikhawatirkan para sahabat Nabi yang baru masuk Islam jatuh kepada perbuatan syirik tersebut, yaitu meminta kepada kuburan, memohon perlindungan kepada penghuninya dan meminta segala hal dari orang-orang yang telah dikuburkan di dalamnya.

Namun akhirnya membaik dan kembali diberlakukan. Indonesia saat ini juga memberikan istilah ziarah sebagai aktifitas berkunjung ke suatu kuburan atau pemakaman. Walaupun dalam prakteknya sebagaimana penelitian yang dilakukan mereka juga menyebut ziarah untuk kunjungan mereka ke suatu tempat selain kuburan.

Misalnya ketika mereka berkunjung ke suatu tempat yang dianggap keramat dan penuh barakah maka mereka menyebutkan ziarah, walaupun tempat yang didatangi bukan kuburan.Ziarah kubur secara istilah adalah berkunjung ke kuburan atau mendatangi makam.

Secara lebih komprehensif dapat disebutkan bahwa ziarah kubur adalah berkunjung atau datang ke pemakaman (kuburan) dengan tujuan mendoakan kebaikan bagi si mayat seperti memintakan maghfiroh (ampunan) untuknya, serta mengingat kematian dan akhirat bagi si pengunjung.

Sebagai contoh adalah masyarakat di beberapa wilayah di Jawa Barat ketika mereka mendatangi Batu Qur'an di Pandeglang mereka menyebutnya berziarah, bahkan ketika beberapa orang berkunjung ke Batu Tulis di Bogor juga dinamakan ziarah.

Demikian juga ketika beberapa masyarakat mengunjungi petilasan dari raja-raja Sunda disebut juga dengan ziarah. Padahal jelas-jelas tempat yang dituju bukan kuburan.

Terlepas dari banyaknya pemahaman yang ada di masyarakat, maka ziarah yang dimaksud dalam islam ini adalah ziarah kubur yang mengunjungi kuburan sebagai bagian dari syariat islam.

Demikian sejarah ziarah kubur saat lebaran pada bulan ramadhan. Semoga bermanfaat, ya. (NDA)