Stunting Menurut WHO, Apa Itu?
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stunting menurut WHO atau World Health Organization adalah masalah pada anak yang menyebabkan tubuhnya lebih rendah atau pendek dari standar anak seusianya. Stunting sendiri memiliki masalah pada gizi sang anak.
Kekurangan gizi yang dialami bayi, bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti, faktor ekonomi, lingkungan, gizi ibu saat hamil, dan kesakitan pada bayi.
Biasanya, penyakit ini sudah bisa dideteksi ketika anak berada di dalam kandungan. Di Indonesia sendiri, masalah stunting menjadi masalah tingkat tinggi yang harus segera mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Melansir Buletin Stunting 2018 dari Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes), Jumat (1/1/2021), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga, dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Data ini didapatkan dari data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan oleh World Health Organization (WHO).
Jika Indonesia menempati urutan ketiga dalam masalah stunting, India adalah negara kedua dengan tingkat stunting tertinggi. Urutan pertama diduduki oleh negara Timor Leste dengan prevalensi sebesar 50.2 persen.
Stunting Menurut WHO: Dampak Pada Bayi
Stunting menurut WHO memiliki dua dampak yang bisa dirasakan oleh bayi pengidap stunting. Dua dampak ini yaitu, dampak jangka pendek dan jangka panjang.
Dampak jangka pendek sendiri terdiri dari: Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian; Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal; dan Peningkatan biaya kesehatan.
Sedangkan dampak jangka panjang yaitu: postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya); Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya; Menurunnya kesehatan reproduksi; kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah; dan Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.
Sebisa mungkin, kita harus melakukan pencegahan sehingga bisa menekan angka masalah stunting di Indonesia. Pencegahan yang bisa dilakukan, di antaranya:
Pemantauan pertumbuhan balita dengan cara rajin periksa kandungan ke dokter
Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita
Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular)
Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif
Melakukan intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi
Semoga masalah stunting di Indonesia dapat berkurang ya.
(Linda Fahira Putri)

